Adegan Pertama



“Cut!” seru Eila yang tidak puas dengan akting Jibran.
Rambut pirangnya terikat asal, sedikit tidak sabar karena Jibran terus gagal pada akting sesuai naskah di tangannya. Eila yang tadinya berdiri di samping Natta, berjalan mendekati Jibran yang mendesah kesal karena aktingnya tidak memuaskan. Bukan hanya tidak memuaskan Eila, tapi juga dirinya.
“Apa kamu pernah naksir perempuan?” tanya Eila setelah berdiri di hadapan Jibran. “Ini baru scene pertama sesuai naskah, yang mana kamu cuma lihat perempuan cantik dan bikin kamu tertarik. Di film kali ini, kamu jadi laki-laki romantis. Jadi, saat lihat perempuan pun, tatapan mata kamu harus manis. Paham?”
Jibran mengangguk dengan lisan yang terkunci rapat. Jelas dia paham harus seperti apa, tapi sayangnya dia tidak tahu harus bagaimana menjadi laki-laki yang manis.
“Aku bakal ulang lagi.”
“Sebentar. Kamu punya printer?”
Jibran mengernyit bingung dengan pertanyaan tersebut. “Ada.”
“Aku boleh pinjam?”
“Buat apa?”
“Something,” kata Eila sok misterius. “Siapa aktris favorit kamu? Boleh lokal atau non-lokal.”
Jibran berpikir sejenak, lalu menjawab dengan tidak yakin, “Jennifer Lawrence.”
Eila manggut-manggut. “Oke. Bisa tolong tunjukin di mana printernya?”
“Biar aku antar aja.” Trian mengambil alih. “Jibran, kamu istirahat dulu. Natta, tolong temanin.”
Trian membawa Eila menjauh, sedangkan Natta yang sejak tadi tidak memiliki kesempatan untuk mengobrol mendekati Jibran yang duduk di sofa ruang tamu. Natta duduk di hadapannya dengan hati-hati, tiba-tiba gugup melihat idolanya yang sedikit pusing dengan latihan pertama karena tidak semudah yang ia kira.
“Misi, Kak Jibran?” panggil Natta pelan. “Kita belum kenalan.”
“Oh, iya.” Jibran menegakkan posisi duduknya agar lebih nyaman. “Kamu pasti Natta. Trian udah bilang kok kamu bakal ikut setiap latihan.”
“Oh, nggak cuma Natta,” sosor Natta percaya diri. “Saya juga penggemar berat Kak Jibran. Saya nonton semua filmnya, bahkan beli DVD original. Pokoknya saya kagum banget sama akting Kak Jibran, apalagi pas lagi megang pistol itu keren banget.” Natta menepuk tangannya penuh rasa kagum, membuat Jibran tersenyum malu mendapatkan pujian langsung dari satu orang di hadapannya.
“Makasih, ya.”
“Terus jangan diambil hati kalau Kak Eila agak sok ngatur, ya. Kak Eila orangnya emang gitu, ngerasa paling bener dan sok perfeksionis. Kalau Kak Jibran butuh apa-apa, tinggal telepon—bentar,” Natta mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, lalu memberikannya pada Jibran tanpa rasa canggung, “hubungin aku aja kalau butuh bantuan di nomor itu. Dijamin, aku bakal bantu sepenuh hati sebagai penggemar.”
Jibran menatap selembar kertas kecil berisikan nomor telepon, lalu tersenyum lebar. “Makasih, Natta.”
Sekitar 10 menit, latihan dimulai setelah Eila mencetak sesuatu yang belum Jibran ketahui. Kala Jibran berdiri di posisi yang sama seperti latihan sebelumnya, Eila meminta Trian untuk berdiri sepuluh langkah dari Jibran dan menyembunyikan wajahnya dengan foto Jennifer Lawrence yang dicetak seukuran kertas A4. Jibran dan Natta kebingungan, sedangkan Trian yang sudah tahu maksudnya memilih ikut saja dengan segala instruksi Eila.
“Itu … kenapa pake foto Jennifer Lawrence?” tanya Jibran bingung.
“Coba akting seakan-akan ada Jennifer Lawrence yang kamu kagumi di sana.” Eila mulai memberi instruksi sebagai jawaban atas pertanyaan Jibran. Ia juga mendekati Jibran dan menyentuh bahu pria itu agar tidak tegang. “Kalau ada idola kamu, pasti feel-nya lebih dapat. Cuekin aja badan Trian dan fokus sama muka Jennifer Lawrence. Bisa, ‘kan?”
Jibran tidak menjawab, malah makin tegang ketika bahunya disentuh pelan oleh Eila. Hanya sentuhan ringan, tapi bekasnya tidak hilang dalam hitungan detik. Jibran keraskan rahangnya, menahan mati-matian ekspresi terkejut yang nyaris tidak bisa dia kendalikan. Jibran sampai tidak fokus pada instruksi Eila karena sentuhan itu masih membekas meski tangan Eila telah lepas.
“Aku anggap diamnya kamu itu bisa. Good luck.”
Kali ini Eila menepuk pundak Jibran dan berlalu begitu saja, membuat sang aktor hampir hilang akal karena sesuatu yang tidak dia duga. Jibran lihat Eila berdiri di samping Trian, memberikan instruksi pula pada sang kakak dan adik yang tidak terlalu diperhatikan. Ini baru latihan pertama, Jibran juga masih akting sendirian sesuai dengan adegan pertama pada naskah, tapi hatinya sudah tidak keruan.
Kalau seterusnya begini, Jibran tidak yakin dia mampu menyelesaikan sesi latihan sampai project filmnya dimulai. Karena tanpa ada yang tahu, perasaan yang pernah Jibran Dava Adelard miliki pada Ardania Eila Mahadarsa, kembali muncul hanya dalam satu kali temu.