Be Brave, Martha
Martha mengusap cermin di kamar mandi yang dipenuhi embun hingga sedikit menutupi bayangannya. Setelah cermin bersih dari embun, Martha mengamati dirinya sendiri yang hanya mengenakan handuk dengan rambut basah setelah keramas untuk bersiap diri menuju acara Julian.
Sesuai rencana, Martin membawa Markus ke lokasi acara untuk membantu persiapan, jadi Martha bisa sedikit santai di rumah. Baru sebelum acara dimulai, Martin akan menitipkan Markus ke salah satu kerabatnya yang cukup dekat, lalu dijemput setelah acara selesai. Sesuai rencana pula, Martha akan datang seorang diri tanpa pendamping sejak nanti dia menginjakkan kaki di lokasi.
Martha masih terus pandangi tubuhnya yang berubah drastis. Kali ini perubahan yang terjadi tidak dapat dia lihat secara positif. Padahal di awal-awal, Martha mensyukuri apa pun yang terjadi karena perbedaan itu muncul setelah Markus hadir sebagai berkah dari Sang Ilahi, tetapi sekarang dia tidak memandang transformasinya itu sebagai hal baik yang patut disyukuri.
Pipinya yang biasa tirus begitu berisi, tulang selangka kebanggaannya yang sedikit timbul tak dapat terlihat akibat bongkahan lemak di bagian sana, belum lagi kedua lengannya yang membesar dan memalukan kala dilihat. Lingkar dadanya pun bertambah, ditambah dia masih menyusui hingga membuatnya jadi lebih besar. Bagian perut jangan ditanya. Hingga saat ini masih buncit dan tidak sekencang saat dia masih gadis, belum lagi adanya stretch mark di sana yang tidak sedap dipandang—entah kenapa bagi Martin itu biasa saja, padahal Martha yang memilikinya sangat geli.
Bagian kakinya pun sedikit membesar, sempat membuat pergerakannya terasa jadi lambat, khususnya di awal-awal pasca melahirkan. Martha sudah melakukan perawatan untuk menghilangkan stretch mark, jadi sedikit berkurang di bagian sana.
Kendati perubahan lain belum diatasi secara maksimal, Martha sudah membuat perencanaan cukup banyak untuk mengembalikan bentuk tubuhnya seperti semula. Masih lama karena Martha perlu menunggu sampai Markus bisa jalan, tetapi itu tidak masalah selama niatnya sudah mulai dibentuk sejak sekarang.
Martha keluar dari kamar mandi dan mengambil hair dryer yang ada di lemari untuk mengeringkan rambutnya. Setelah rambutnya kering, Martha mendekati kasur tempat dalaman dan gaun yang telah dia keluarkan dari lemari berada, gaun merah yang menarik di mata—tentu dalam konotasi negatif—sebab tak terlalu sedap dilihat.
Entah Martha bagian mana yang dipikirkan Martin ketika mengambil gaun itu, sebab dari segi mana pun desainnya tidak menggambarkan sang istri yang sedang menumbuhkan bagian hilang dalam dirinya. Namun, Martha tidak mampu menolak, jadi dia tetap mengenakan gaun itu meski tahu akan sangat memalukan ketika dipandang.
Setelah tubuhnya dibalut perca dengan rapi, Martha duduk di depan meja rias dan mulai memoles dirinya dengan riasan wajah terbaik yang jarang disentuhnya. Jika gaunnya tidak cukup baik, setidaknya wajah Martha tidak boleh ikut buruk rupa bagi banyak pasang mata yang ada di pesta.
Martha harus tampil cantik, minimal untuk Martin yang sudah berharap lebih. Eye shadow, blush, kontur di bagian hidung dan pipi, serta lip matte berwarna netral jadi pilihan terbaik untuk tampil sederhana tetapi maksimal.
Menyelesaikan riasannya, Martha berdiri dan kali ini mendekati cermin setinggi manusia yang menyatu dengan lemari, memandang bayangannya untuk tahu bagaimana penampilan sang puan secara keseluruhan. Pertama kalinya gaun itu digunakan dan benar saja, tampak memalukan ketika dilihat.
Gaun yang panjangnya sedikit di atas lutut itu membentuk Martha hingga lekukan lemak di tubuhnya tercetak jelas. Warna merahnya sangat mentereng, makin mempertontonkan siluet daksa yang seringnya Martha tutupi menggunakan warna gelap. Belum lagi garis-garis horizontal ukuan besar yang mengganggu, kian memperbesar tubuh Martha yang selalu dibalut pakaian berdesain netral setiap harinya.
Jika saja orang-orang di sana bisa mengabaikan penampilannya, Martha akan baik-baik saja bersama Martin, pulang setelah mengucapkan selamat ulang tahun pada sang pemilik pesta, hingga akhirnya bebas dari kurungan netra yang menilainya tiada henti. Namun, sangat tidak mungkin bila dia diabaikan begitu saja, sebab pasti Martha jadi pusat perhatian jika ada satu orang membahas soal penampilannya.
Martha menggeleng pelan, berusaha menyingkirkan pikiran buruk terkait malam ini yang belum tentu terjadi. Martin berkata malam ini adalah cara untuk membentuk kembali rasa percaya diri Martha. Maka mungkin itu sebabnya Martin memilih gaun yang berdesain sangat ‘unik’ agar Martha tampil berani di depan padatnya manusia nanti.
Martha embuskan napas pelan, yakinkan diri bahwa dia bisa melakukannya, khusus untuk satu malam dan waktu yang singkat. Jika tidak untuk orang lain, maka minimal Martin yang menjadi alasan Martha mau melakukannya.
Martha paksakan senyum, memasang topeng kacanya lagi yang telah rapuh, memaksa untuk jadi tempat persembunyian terbaik meski tidak sepiawai dulu. Tidak apa-apa, selama itu bisa membungkus kekhawatiran Martha dengan cukup baik, maka topeng itu tetap berguna ketika dia harus tampil.
“Be brave, Martha,” gumam sang wanita berstatus istri dan ibu itu. “Kamu hebat. Orang-orang harus tahu itu.”