Bersua dengan yang Lalu

Wanita berambut pirang bernamakan Ardania Eila Mahadarsa itu memainkan ponselnya tidak menentu, tidak antusias seperti biasa karena tidak ada yang menarik di media sosial hari ini. Eila bukan pecinta gosip, tapi dia senang saat ada kabar terbaru dari selebritas atau tokoh-tokoh penting agar timeline tidak terlalu sepi. Sayangnya hari ini timeline tergolong flat, sampai Eila mendesah bosan berkali-kali dengan netra yang terus tertuju pada ponsel.
Trian memandang adiknya kebosanan dan membuat sang kakak menatap jam tangannya setiap jeda satu menit karena rekannya tidak kunjung datang. Saat ini mereka sedang berada di private coffee shop, di mana pengunjung bisa menikmati waktu mereka secara privasi di beberapa ruangan khusus yang disewa dengan harga sesuai luasnya.
Trian tidak ingin Jibran bertemu adiknya di ruang terbuka, jadi tempat mereka berada sekarang adalah lokasi yang pas.
“Lama banget,” decak Eila tidak sabar sembari meletakkan ponselnya di atas meja. “Aktor emang suka ngaret, ya?”
“Kita janji ketemunya jam 2, La. Ini aslinya terlalu cepat, jadi kamu harus sabar.”
“Harusnya kamu bilang sama dia buat datang cepat-cepat. Kalau gini aku yang capek nungguin dia. Padahal dia yang butuh,” keluh wanita itu dengan mata melotot.
“Sabar. Jibran bukan orang ngaret dan sekarang lagi on the way, kok. Pas dia udah nyampe, aku yakin kamu bosannya hilang.”
Eila manggut-manggut saja, tidak tertarik merespons lebih. Eila tahu siapa Jibran, reputasinya sebagai aktor laga yang memiliki paras rupawan dengan akting ciamik bukan bualan belaka. Sayangnya Eila jarang menonton film laga karena membuat kepalanya pusing, jadi dia tidak tahu sepiawai apa Jibran dalam berakting.
Lima menit sejak obrolan terakhir dengan Trian, akhirnya yang dinanti tiba dan membuat sang manajer mendesah lega. Trian berdiri, yang membuat Eila otomatis ikut berdiri untuk menyambut kedatangan sang aktor utama. Jibran mengenakan hoodie abu-abu dan kacamata berbingkai hitam sebagai penyamaran. Namun, penyamaran itu terasa percuma karena sebagai selebritas, terlebih dengan wajah seunik Jibran yang mudah dikenal, orang pasti akan sadar siapa dia.
Well, setidaknya itu yang Eila pikirkan ketika melihat Jibran sekarang. Ketika Jibran membuka penutup kepala dan melepas kacamatanya saat menyapa Trian, Eila tanpa sadar menahan napasnya dan jantungnya berdebar cepat. Oh, bukan. Ini bukan karena jatuh cinta pada pandangan pertama, melainkan karena terpana melihat kesempurnaan yang ditampilkan Jibran secara langsung.
Eila bisa mengabaikan kabar soal Jibran di media sosial atau televisi, tapi tidak bisa mengelak pesona pria yang netranya kini menatap tepat pada Eila. Auranya terlalu kuat, sampai-sampai Eila nyaris tidak bisa mengendalikan diri. Sebagai perempuan normal, melihat laki-laki setampan Jibran dalam jarak begitu dekat menjadi momen mendebarkan.
“Nah, Jibran. Ini adik aku. Eila, ini nggak usah dikenalinlah, ya. Pasti udah tahu siapa.”
Trian sebagai penengah bersuara, menyadarkan Eila kembali ke realitas dan berusaha sesantai mungkin saat Jibran sudah tepat di hadapannya.
Jika tadi Eila yang mengamati Jibran, maka kini Jibran mengamati perempuan setinggi pundaknya penuh penilaian. Ardania Eila Mahadarsa yang Jibran ingat dulu adalah gadis periang dengan suara nyaring, yang berhasil menjadi pemeran utama di teater perpisahan sekolah.
Sekarang Eila menjadi wanita cantik yang sempat membuat Jibran pangling karena nyaris tidak mengenalnya kala dilihat secara langsung. Keceriaan yang Eila miliki tidak luntur, karena buktinya dia lebih dulu mengulurkan tangan seraya tersenyum yang masih Jibran ingat setelah bertahun-tahun tidak bersua.
“Hai, aku Eila. Aku nggak pernah nonton film-film kamu, tapi aku tahu siapa kamu,” ungkap Eila jujur, tidak ingin pura-pura jadi penggemar yang pada kenyataannya sangat minim pengetahuan soal Jibran.
Sang aktor tersenyum mendengar pengakuan yang tidak ia duga. Di balik senyum itu, Jibran harus terima karena Eila tidak mengenalinya sebagai kawan di masa lalu.
“Aku Jibran,” balas Jibran seraya menjabat tangan Eila. “Makasih udah mau ketemu aku.” Lagi ….