Breakfast

Melupakan kejadian saat bangun tidur tadi, Jibran dan Eila bisa bertingkah seperti biasa seakan tidak ada apa-apa. Jibran yang pandai akting bisa dengan mudah pura-pura tidak tahu apa-apa, sedangkan Eila yang tidak mau memusingkan urusan pribadi orang memilih abai dan fokus dengan yang akan mereka lakukan.

Seperti yang direncanakan, pagi ini Jibran latihan sesuai naskah, di mana dalam naskah ada Jeremy yang membuatkan sarapan untuk Anata yang menginap di rumahnya. Eila duduk dengan tenang di depan meja makan sembari memandangi Jibran yang berdiri di depan meja marmer, dengan tangan yang sibuk membuat adonan telur dan susu. Natta sendiri berdiri di samping meja makan sembari merekam Jibran dan Eila bergantian menggunakan ponsel kakaknya.

“Jangan lupa sesekali lirik aku dan wajib senyum,” titah Eila dengan netra yang fokus pada Jibran. “Biar sesuai sama naskah.”

Tanpa membantah, Jibran melirik Eila sesekali seraya tersenyum dengan manis. Senyumnya terlihat alami saat aktingnya dimulai, membuat Eila merasa kagum dan bangga karena perkembangan akting Jibran sebagai Jeremy makin baik.

“Nanti nggak usah terlalu sering liriknya. Yang penting kamu mastiin Anata nggak kelihatan bosan.”

Jibran tertawa karena sadar dia terlalu sering melirik Eila. Dalam satu menit, bisa terhitung 4 kali ia melirik Eila.

“Sorry.”

“Santai. Sekarang kamu fokus masak aja.”

Jibran lagi-lagi menurut dan kini lebih fokus memasak. Jibran membuat tiga porsi toast keju dengan daging asap. Adegan memasak sudah memuaskan, jadi sekarang tinggal menunggu sarapan selesai dibuat. Tanpa diinstruksi, Natta membantu Jibran membuat sarapan, sedangkan Eila malah mengamati punggung Jibran yang lebar dan terlihat nyaman untuk jadi tempat bersandar.

Teringat lagi dengan bekas luka bakar pada biceps Jibran yang tertutup oleh kaus hitam lengan panjangnya. Eila jadi tidak bisa melihat gaya berpakaian Jibran dengan cara yang sama lagi, karena ternyata Jibran menyembunyikan kekurangan yang membuat dia kehilangan rasa percaya diri. Eila selalu berpikir bahwa tiap kali Jibran bercermin, pasti dia akan memuji dirinya sendiri. Namun kini, Eila yakin pujian itu hilang akibat kekurangannya. Well, sebenarnya itu bukan masalah. Benar, ‘kan? Kekurangan itu menjadi tanda bahwa Jibran juga manusia biasa.

Aroma sedap menyadarkan Eila dari lamunannya, lalu tersenyum lebar ketika tiga porsi toast sudah mendarat di meja makan untuk menjadi menu sarapan.

“Harusnya kita yang masak, Kak. Kasihan nih Kak Jibran malah masak buat kita.” Natta sudah mengoceh saja sembari mengambil posisi di samping Eila.

“Enggak apa-apa. Ini ‘kan sekalian latihan. Aku juga udah terbiasa nyiapin sarapan sendiri.”

“Wow.” Eila tersenyum takjub. “Berarti strateginya bagus, ya. Kamu kelihatan lakuin ini semua secara rutin. Good job, Jibran.”

Jibran memaku ketika rambutnya dielus lembut oleh tangan Eila sebagai bentuk pujian darinya. Jibran sampai lupa akan melakukan apa pada toast-nya karena elusan berdurasi singkat itu meninggalkan bekas cukup lama. Bola matanya merangkak naik menatap Eila dengan gerakan pelan, menemukan wanita itu tengah menikmati toast-nya dengan semangat. Eila sampai menari kecil sebagai tanda bahwa toast yang Jibran buat berhasil memanjakan lidahnya.

Jibran tersenyum, tapi buru-buru menyembunyikan senyumnya dengan menunduk karena terlalu malu. Kalau Eila terus begini dan skinship yang mereka buat makin intens, Jibran tidak yakin dia bisa mengenyahkan perasaannya. Mau tidak mau, Jibran harus menerima segala rasa yang ia miliki mekar untuk Eila seorang.