Bukan Manusia Sempurna

Baku tembak di jalanan begitu mengerikan kala didengar. Membuat siapa pun yang ada di sekitar lari terbirit-birit demi menghindari peluru yang bisa salah sasaran. Namun, tidak bagi Jibran yang kala itu menjadi pelaku sebagai penembak andal pada target di depan. Dengan satu tangan yang menarik pedal gas, tangan lainnya bekerja memegang pistol dan menekan pelatuk setiap kali mendapat kesempatan untuk mengenai target.
Sayang, target yang juga mengendari motor selalu berhasil menghindari serangannya. Jibran memacu kecepatan tinggi setelah kedua tangannya fokus memegang stang motor, menyalip beberapa mobil yang berlalu lalang untuk mengejar targetnya. Begitu motornya berhasil mengejar target dan tepat di sampingnya, ketegangan makin terasa nyata hingga kendaraan lain memilih berhenti demi menghindari jadi korban salah sasaran.
Jibran melirik sesekali ke arah kirinya di mana target yang mengenakan helm untuk menyembunyikan wajahnya berada. Dia harus fokus sebelum mengangkat sebelah tangannya untuk menembak target yang berada di bawah kuasanya.
Nahas, di saat Jibran nyaris menodongkan senjata, satu tembakan mengenai lengan Jibran hingga dia kehilangan keseimbangan dan terjatuh dari motornya. Jibran terguling di atas aspal dengan darah yang bercucuran pada luka tembaknya, sedangkan target utamanya telah lolos menjauh dengan kemenangan.
Di tengah kesadarannya yang tipis dan napas yang tersengal-sengal, Jibran menatap motor itu tanpa berkedip. Sampai akhirnya kegelapan menjemput, Jibran biarkan tubuhnya tergeletak begitu saja di atas aspal tanpa ada sesiapa yang menyelamatkan.
Jibran Dava Adelard membuka matanya dan mengerjap beberapa kali untuk memfokuskan pandangan yang kabur. Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit kamar berwarna biru, menandakan bahwa ia berada di rumahnya. Ya, bukan rumah sakit untuk merawat lukanya, melainkan rumah yang menjadi tempat bernaung daksa selama lima tahun terakhir ini.
Saat nyawanya telah terkumpul, Jibran usap wajahnya dengan kedua telapak tangan dan bernapas lega karena itu semua hanya mimpi. Kengerian, ketegangan, kebisingan, hingga kesakitan yang Jibran alami dalam mimpinya terasa nyata, karena setelah ia bangun pun, Jibran masih merasakan itu semua sampai harus memastikan dia telah sepenuhnya sadar.
Jibran bangkit dari posisinya, lalu berjalan menuju cermin setinggi tubuhnya yang menempel pada pintu walk in closet-nya. Jibran menatap bayangannya pada cermin yang tak mengenakan atasan, merasa bersyukur karena bekas luka di tubuhnya yang sering ia dapatkan saat syuting film laga telah hilang di bagian dada dan perutnya.
Namun, ketika dia berputar sedikit ke arah kanan, Jibran menemukan bekas luka bakar pada bicepsnya yang belum kunjung hilang. Bekas luka kemerahan itu sangat mengganggu bagi Jibran, meski selalu tertutup oleh pakaian dengan lengan panjang yang selalu ia kenakan setiap syuting atau sekadar bepergian. Luka itu Jibran dapatkan saat syuting film terakhirnya yang telah tayang 2 bulan lalu.
Jibran yang berdiri terlalu dekat dengan api saat pengambilan gambar terakhir, serta kru yang fokus kala syuting, sempat tak sadar bahwa satu bagian tubuhnya telah terbakar. Begitu sadar, lukanya telah parah dan meninggalkan bekas hingga sekarang.
Dari luar Jibran boleh terlihat tanpa celah layaknya patung yang dipahat sempurna, tanpa meninggalkan satu detail kecil dan menjadi kritik. Kenyataannya pada bagian tubuhnya terdapat luka yang membuat Jibran sendiri jijik melihatnya. Namun, luka itulah yang menandakan bahwa Jibran hanyalah manusia biasa yang bisa terluka.
Dia bukan manusia sempurna yang hanya dilihat bagian luarnya saja, karena dalam dirinya dia memiliki kekurangan yang berusaha disembunyikan dari banyak orang. Jibran menyingkir dari cermin dan membuka kulkas yang masih berada di kamarnya, meraih sebotol air, lalu menghabiskannya dalam satu kali tegukan.
Saat Jibran berjalan menuju kamar mandi, langkahnya terhenti ketika melihat tiga naskah film yang ditawarkan padanya untuk menjadi project film terbarunya, tergeletak begitu saja di atas meja tempat Jibran sering berlatih dialog dan akting. Alih-alih meraih salah satu naskah yang menarik minatnya, Jibran memilih meraih ponselnya di sana, menyalakannya, lalu mencari kontak orang andalannya yang selalu siap sedia di pagi hari begini.