Can I Have This Dance?

Part ini terinspirasi dari scene dansa di High School Musical 3
Hanya berdua dengan Ardania Eila Mahadarsa menjadi momen yang paling menegangkan bagi Jibran Dava Adelard kala mereka berada di rumah. Terlebih hari ini Eila malah membuat ide untuk melatih skinship Jibran yang menjadi inti dalam cerita Perfect Wife. Maklum, tokoh Jeremy dalam film adalah laki-laki yang sangat menyukai sentuhan fisik sebagai bentuk rasa sayang pada kekasihnya. Jadi Jibran perlu dilatih untuk membiasakan diri ketika syuting sebenarnya dimulai.
Eila tidak mau Jibran kaku saat syuting, jadi lebih baik dilatih sejak sekarang agar Jibran terbiasa. Jangan sampai Jibran disangka kurang profesional hanya karena tidak mampu melakukan skinship dengan pasangannya di film genre romansa pertamanya. Eila tidak akan membiarkan Jibran dianggap seperti itu. Jadi memanfaatkan momen berdua di rumah, Eila memainkan lagu dari soundtrack film kesukaannya menggunakan ponsel, Can I Have This Dance – High School Musical 3, latihan pun dilakukan.
Di ruang tengah, Eila berdiri menghadap Jibran yang bergeming karena tak tahu harus berbuat apa. Lain dengan Eila yang sudah tersenyum antusias karena tidak sabar dengan latihan mereka. Paham Jibran kebingungan, Eila mengambil satu langkah mendekat sebagai awal menuju step selanjutnya.
Jibran yang awalnya menunduk menatap jemari kakinya sendiri, kini menatap Eila yang jaraknya amat dekat. Senyum manis tak luntur dari wajah Eila, mengundang senyum Jibran yang malu-malu untuk ditunjukkan. Eila meraih tangan Jibran dan menggenggamnya erat, membuat Jibran bisa merasakan kelembutan tangan Eila yang asing kala bersentuhan dengannya.
“Tangan kamu dingin,” ucap Eila seraya tertawa kecil. “Are you okay? Maksudnya kalau nggak nyaman nggak usah dilanjut.”
Jibran mengangguk sekali. “I’m okay,” jawabnya pelan.
Tak peduli tangannya dingin dan letupan kecil pada jantungnya berubah besar akibat Eila, Jibran tidak ingin menyia-nyiakan momen ini begitu saja.
“Kalau gitu, aku boleh lingkarin tangan kanan kamu di pinggang aku?”
Jibran mengerjap, memastikan yang ia dengar tidak salah. Pasalnya Jibran sudah memikirkan beberapa skenario di kepala apa saja yang akan terjadi jika dia mengiyakan pertanyaan Eila. Pertama, Jibran dan Eila akan dalam posisi yang amat dekat. Kedua, debar jantung Jibran bisa saja terdengar dalam jarak dekat. Ketiga, Jibran tak yakin dapat bertahan dalam waktu yang lama.
Namun sekali lagi, Jibran tidak mau menyia-nyiakan momen ini, jadi dia mengangguk lagi sebagai persetujuan atas pertanyaan Eila. Sang puan tersenyum, lalu melingkarkan lengan Jibran pada pinggangnya, sedangkan tangan kanan Eila saling mengait dengan tangan kiri Jibran yang juga terasa dingin.
Senyum Eila sedikit bergetar, menahan tawa karena reaksi tubuh Jibran menjadi tanda bahwa dia asing kala harus bersentuhan dengan perempuan. Saat Eila mengaitkan lengannya pada pundak Jibran hingga jarak mereka kini hanya satu jengkal, Jibran menahan napasnya sejenak yang membuat Eila terbahak karena reaksi pria ini sangat menggemaskan.
“Relaks,” ujar Eila setengah berbisik sambil membimbing Jibran untuk bergerak mengikuti gerakan kakinya, bersamaan dengan lagu Can I Have This Dance yang sudah bermain untuk kedua kalinya. “Kamu belum pernah dansa sebelumnya, ya?” tanya Eila ketika Jibran fokus menatap kakinya yang bergerak kaku, mencoba mengikuti gerakan sederhana Eila.
“Belum,” balas Jibran polos. “Pegangan sama perempuan kayak gini aja belum pernah.”
“Berarti aku harus kasih tahu salah satu aturan dansa yang paling penting dan wajib dilakuin.”
“Apa?”
“Kamu harus lihat pasangan kamu, nggak boleh ke yang lain.”
Jibran tidak tahu mantra atau pelet apa yang Eila miliki, karena setiap katanya selalu berhasil dituruti hanya dalam sekejap. Jibran kembali menatap Eila, fokus pada netra legam yang juga menatapnya dalam. Tak lupa Eila tersenyum, berharap senyumnya bisa membuat Jibran relaks saat daksa mereka kini bergerak lebih ringan dari sebelumnya.
Kedua tangan Jibran tetap dingin, tapi raganya sudah lebih relaks. Debar jantung Jibran? Jangan ditanya! Letupan kecil itu kian membesar, sampai Jibran takut Eila bisa menyadarinya.
Saking sibuk dengan debar jantungnya sendiri, Jibran tidak sadar bahwa Eila sebenarnya merasakan hal serupa, hanya saja ditutupi oleh ketenangannya. Karena jujur, berada di dekat Jibran dengan jarak sedekat ini, sangat berbahaya untuk Eila yang sadar bahwa ada perasaan asing yang mulai menjadi kecambah dalam diri, bersiap untuk mekar dan menunggu sang pemilik untuk mengambilnya.
Bukan laki-laki lain, bukan mantannya yang telah menjadi masa lalu, tapi untuk Jibran yang ada di depan mata.
“Sekarang kamu udah lebih relaks.”
Eila makin mengaitkan lengannya pada pundak Jibran, sengaja agar jarak mereka makin tipis untuk melihat reaksi sang aktor. Terbukti Jibran sudah lebih relaks dari sebelumnya, gerakan dansa mereka pun lebih teratur tanpa merasa ada batas, meski tangan Jibran masih terasa dingin ketika digenggam. Well, tidak apa-apa, yang penting Jibran sudah mulai terlatih dengan sentuhan fisik bersama lawan jenis.
“Aku boleh ngomong jujur?”
“Silakan.”
“Aku bukan penggemar kamu, Jibran. Aku belum pernah nonton film kamu. Tapi bisa sedekat ini sama orang sehebat kamu, aku ngerasa jadi perempuan yang paling beruntung.” Eila menekankan tiga kata terakhir sebagai tanda kesungguhannya.
Jibran melebarkan senyumnya. Tak hanya senang, tapi karena dia juga merasa menjadi laki-laki paling beruntung. Pasalnya saat ini dia berhadapan dengan cinta pertamanya, yang dulu hanya menjadi angan dalam angin, tapi kini daksanya berada dalam jangkauan.
Sayang, nyali Jibran masih ciut seperti dulu untuk mengakui soal perasaan—atau minimal mengaku mereka pernah satu sekolah. Selain karena Jibran masih terikat dengan project, dia tidak mau hubungannya dengan Eila malah regang akibat pengakuannya yang tidak ia pertimbangkan secara matang.
Jadi untuk sekarang, Jibran biarkan perasaannya yang kembali mekar untuk tetap berada di dalam sangkar. Jika nanti waktunya sudah tepat, Jibran membuka sangkar itu dan memberikan bunganya yang mekar untuk Eila.
Can I Have This Dance sudah berputar sebanyak lima kali, tapi Jibran dan Eila masih betah berdansa dengan gerakan santai yang teratur, dengan netra yang saling menautkan pandang, serta senyum yang terpatri sebagai bentuk rasa sepanjang berdansa.
“Eila, ingat aku pernah cerita singkat soal suka sama perempuan di sekolah?” Kala Eila mengangguk, Jibran melanjutkan, “Aku sadar perasaan yang pernah aku punya ke dia masih ada sampai sekarang.”
Eila mengerjap, cukup terkejut mendengar pengakuan itu. “Pernah bilang suka ke dia?”
“Enggak pernah berani,” jawab Jibran seraya tertawa masam. “Sampai sekarang juga nggak berani. Lagian dia nggak akan nerima aku.”
“Kenapa nggak dicoba?” Rasa penasaran Eila mulai merangkak naik. Ingin mengulik lebih dalam apa yang Jibran rasakan saat ini. “Menurut aku, dia pasti nerima kamu. Apalagi kamu aktor yang nggak mungkin orang nggak kenal sama kamu. Jadi, dia pasti senang karena tahu kamu suka sama dia.”
Eila mengira bahwa Jibran membicarakan orang lain, padahal sebenarnya yang dibicarakan Jibran adalah Eila sendiri. Sedihnya, Jibran tak setuju dengan argumen itu, karena Jibran tidak mau perasaannya diterima hanya karena siapa sosoknya yang tidak abadi dalam industri ini.
“Aku nggak mau dikenal sebagai aktor belaka. Aku mau dia nerima perasaan aku secara tulus sebagai orang biasa. Kalau dia nerima karena aku aktor, belum tentu perasaan dia bisa tulus dan malah jadiin aku ajang pamer.”
Alasan Jibran sangat masuk akal dan Eila menerimanya. Tidak dipungkiri sosoknya sebagai aktor menjadi incaran perempuan. Perasaan seorang penggemar dan pecinta jelaslah beda. Penggemar bisa saja berubah seiring dengan popularitas yang juga tidak abadi. Sedangkan seseorang yang mencintai tanpa melihat status, tak akan peduli pada popularitas yang dia miliki.
Seperti Eila sekarang yang tidak melihat Jibran sebagai aktor ternama, melainkan hanya manusia biasa yang butuh kawan untuk bicara. Namun, Eila tidak berani berharap bahwa orang yang dimaksud Jibran adalah dirinya, atau dirinya ada di posisi perempuan yang diceritakan oleh Jibran. Karena … siapalah Eila? Jibran pasti memiliki sosok idaman yang jauh berbeda dengan Eila sekarang.
“Terus gimana?” tanya Eila sembari menahan rasa sesak di dadanya. “Kamu mau pendam terus?”
“Aku bakal bilang ke dia saat waktunya tepat,” jawab Jibran tanpa ada keraguan sedikit pun.
“Kapan?”
“Kalau aku udah bebas dari ini semua dan dia masih bisa aku jangkau.”
Begitu rupanya. Eila tak terlalu mengerti apa maksud kata sudah bebas yang dilontarkan Jibran, tapi jujur, membayangkan Jibran akan mengakui perasaannya pada perempuan yang pernah ditaksirnya membuat Eila takut. Ya, ia takut patah hati di saat perasaannya mulai tumbuh tanpa bisa dicegah. Sepintar apa pun Eila menyangkal, kata hati tidak pernah bisa berbohong. Justru makin disangkal, realitasnya makin terasa jelas bagi Eila.
Gerakan mereka berhenti bersamaan dengan lagu yang ikut berhenti total, tapi Jibran dan Eila tidak ingin melepas tangan mereka yang saling mengait satu sama lain. Jika waktu boleh berhenti, maka Jibran akan menikmati waktu ini sebaik mungkin dan membiarkan daksanya berada sedekat ini dari Eila.
Momen ini tidak akan datang dua kali, terlebih Eila pun tidak keberatan ketika lengan Jibran yang melingkar di sekitar pinggangnya mengerat. Namun, Semesta seolah tidak mau melihatnya bahagia terlalu lama. Karena ketika suasana mendukung untuk jadi romantis, ada saja pengganggu yang datang untuk mengacau.
“Eila! Jibran! Kalian berdua ngapain?”
-
High School Musical rekomen banget buat ditonton


