Dinner



Makan malam seperti yang telah direncanakan berlangsung dengan santai. Tanpa perubahan rencana, Jibran datang membawa Trian, Natta, dan Eila yang dikenalkan sebagai manajer serta stafnya. Disebut staf, rasanya tidak salah juga. Selama ini Eila dan Natta memang membantu Jibran selama persiapan syuting, tapi dalam keadaan seperti ini mereka diharuskan ikut.
Diajak makan malam di kediaman keluarga Jibran menjadi sebuah kehormatan yang membuat Eila dan Natta harus berhati-hati ketika bertingkah. Apalagi orang tua Jibran bukan orang sembarangan yang dilihat dari jauh saja sudah membuat Eila dan Natta segan. Ayahnya, Jagad Adelard, adalah seorang dokter spesialis penyakit dalam. Sedangkan ibunya, Mia Yahya, adalah seorang dosen bahasa yang keanggunannya begitu melekat sampai Eila saja kagum kala melihatnya.
Namun kini, kekaguman itu bertransformasi menjadi rasa gugup karena Eila duduk di samping Mia, sedangkan di samping kirinya ada Natta. Di hadapannya ada Jibran yang didampingi oleh Trian. Lalu di bagian utama meja, ada Jagad sebagai orang yang memimpin makan malam.
“Kenapa kamu mau main film genre romansa gini, Jibran? Ayah pikir kamu udah nyaman banget main film laga. Secara delapan tahun ini filmnya itu terus.”
“Cari suasana baru,” jawab Jibran seadanya.
Jagad manggut-manggut. “Trian, makasih udah jaga anak saya, ya. Kalau Jibran sedikit susah dikasih tahu, tolong kabarin saya.”
Trian yang sedang mengunyah buru-buru menelan makanannya, lalu menjawab, “Siap, Pak Jagad. Saya pasti berkabar.”
Eila menggigit bibirnya melihat Trian yang jadi tidak berdaya saat di depan Jagad. Wajar, meski wajahnya ramah dan sambutannya hangat, tetap saja membuat orang sekitar segan pada beliau. Jagad lebih banyak bicara dibandingkan Mia yang tadi hanya menanyakan kabar Jibran. Selebihnya Jagad yang membuka obrolan dan mau bertanya pada staf Jibran.
“Kamu kelihatan masih muda,” ucap Jagad yang ditujukan pada Natta. “Kamu umurnya berapa?”
Natta yang selalu percaya diri lantas menjawab, “Saya baru 21 tahun, Pak. Masih kuliah.”
“Oh? Kok bisa jadi staf Jibran?”
Natta langsung bungkam. Dia bingung harus menjawab bagaimana. Beruntung Jibran yang sudah memiliki banyak skenario di kepala bisa segera mengambil alih agar Jagad dan Mia yang berhenti makan jadi curiga.
“Natta staf freelance, Ayah. Natta sama Eila ini adiknya Trian dan tertarik sama industri hiburan. Makanya sambil belajar, mereka jadi staf aku dulu.”
“Gitu, ya.”
Jagad percaya tanpa menaruh curiga. Lain halnya dengan Eila yang mati-matian menahan tawa sembari menatap Jibran jail. Yang ditatap hanya mengangkat bahunya tak acuh sembari tersenyum tipis, karena yang penting dia sudah menjawab semampunya.
Menyadari ada interaksi kecil antara Jibran dan Eila yang terasa sedikit spesial untuk hubungan aktor dan staf, Jagad pun beralih untuk bertanya pada Eila yang sejak tadi diam.
“Eila, sebelumnya kamu kerja apa?”
Eila yang ditanya tiba-tiba tegang. Ia sampai memegang pisau untuk memotong steik lebih erat sebagai pengalih ketegangan pada dirinya. “Saya punya usaha croffle, Pak.”
“Oh, toko besar, ya?”
“Cuma toko kecil. Tapi pesanannya harus pre-order dulu.”
Eila menyelipkan helaian rambutnya di belakang telinga sebagai pengalih rasa gugup yang tidak kunjung hilang. Eila menatap Jibran, memberi kode bahwa dia sangat segan di hadapan Jagad. Paham, Jibran mengedipkan matanya perlahan, memberi tahu bahwa Jagad tidak akan bicara aneh-aneh atau memberi pertanyaan yang sulit.
Eila akhirnya tersenyum dan ketegangan di tubuhnya berhasil luruh. Ia mengangguk sekali, pelan, agar orang-orang sekitar tidak curiga. Sayang, interaksi yang menimbulkan percikan asmara itu nyatanya tetap disadari oleh Jagad dan Mia. Terlebih Mia yang ada di samping Eila dan sudah aneh dengan gerak-geriknya.
Ketika tahu ada komunikasi kecil yang hanya dipahami oleh Jibran dan Eila, Mia yang pendiam jadi tertarik untuk bersuara.
“Eila, kamu udah ada pacar?”
Pertanyaan tiba-tiba itu mengembalikan ketegangan yang sempat hilang dari Eila. “Saya … belum punya, Bu.” Eila mencicit kala menjawab pertanyaan Mia seraya menatap beliau.
“Padahal kamu cantik. Kenapa belum punya?”
“Belum ada yang cocok,” jawab Eila yang memainkan buku jarinya di bawah meja.
“Coba aja Jibran belum dijodohin, saya nyaranin kamu sama Jibran, deh. Dari staf jadi pacar gitu.”
Mia bergurau, tapi tidak mengundang tawa orang-orang yang tengah makan. Trian malah menganga kecil, sepotong steik yang akan mengudara ke mulut Natta berhenti karena terkejut, sedangkan Jibran malah curiga karena Mia mengatakan sesuatu yang aneh dan janggal kala didengar.
“Oh, iya.” Jagad menanggapi dengan semangat. “Jibran udah dijodohin sama anak kenalan saya. Dia anak pertama, kelihatan cocok sama Jibran yang anak tunggal. Sayang banget dia nggak bisa ke sini, soalnya saya udah janji ini jadi dinner kita aja.”
“Ayah,” tegur Jibran. “Enggak seharusnya ngomongin ini di depan mereka.” Apalagi di depan Eila. Jibran tatap Eila sejenak yang kembali makan, antara tidak ingin mendengar atau tidak ingin ikut campur dalam percakapan pribadi. “Ini obrolan pribadi, jadi nggak seharusnya diomongin di depan banyak orang, Ma,” lanjut Jibran yang juga menegur Mia.
“Kamu malu?” Jagad terbahak sedangkan Mia hanya tersenyum. “Kamu ini lucu banget. Waktu itu nolak, sekarang malu kayak mau. But okay, Ayah nggak bahas lagi biar kuping kamu nggak makin merah.”
Sejujurnya Jibran tidak malu dan tidak masalah jika orang tuanya membahas soal perjodohan dengan orang yang ia belum ketahui siapa. Namun, tidak di depan Trian, Natta, apalagi Eila—perempuan yang tengah ia taksir.
Jibran tahu Eila tidak menyukainya—mungkin—tapi dia tidak boleh mendengar kabar ini karena terlalu pribadi. Selama ini Eila selalu dekat dengannya, jadi Jibran khawatir nanti Eila malah menjaga jarak dan intensitas kedekatan mereka selama latihan malah berkurang.
Suasana berubah canggung di tengah mulut yang sibuk makan, tapi tidak bagi Jagad dan Mia yang saling berpandangan seakan paham ada apa dengan putra tunggalnya. Meski tahu, Jagad dan Mia tidak akan mengubah keputusan mereka untuk menjodohkan Jibran dengan orang yang lebih mereka kenal. Jadi mau tidak mau, Jibran ada dalam posisi harus setuju.