Kontrak

“Kamu yakin nggak mau perpanjang kontrak? Karier kamu masih sangat bagus, Jibran. Usia kamu juga masih produktif dan punya banyak potensi di dunia hiburan. Masih bisa banget diasah. Banyak production house yang nunggu kamu buat gabung sama film mereka, tanpa audisi juga. Kamu juga udah dapat naskahnya. Minimal bertahan lima tahun lagi aja, karena nama kamu nggak akan hilang gitu aja walaupun berhenti.”

Timon, pendiri sekaligus CEO dari Punch Entertainment, tidak berhenti bertanya untuk meyakinkan Jibran yang katanya menolak untuk memperpanjang kontrak. Jibran, aktor laga terbaik di PE yang sudah berkarier hampir 8 tahun, jelas tidak bisa Timon lepas begitu saja keberadaannya. Bagi Timon, Jibran bak emas yang filmnya selalu sukses dan menguntungkan PE sebagai tempat bernaung sang aktor.

Melepaskan Jibran di tahun-tahun kariernya yang sedang melambung tinggi bukan pilihan baik, terlebih saat PE menerima banyak tawaran untuk aktor kesayangan mereka dan berharap bisa menerima semua project-nya. Timon menyandarkan posisi duduknya, menatap serius Jibran yang terlihat tidak tertarik menjadi incaran production house. Timon kembali duduk tegak dan menyilangkan kedua lengan di atas meja.

“Kamu bakal jadi salah satu aktor dengan bayaran tertinggi. Karier melejit kamu nggak bikin produser minder buat milih kamu sebagai aktor.”

Jibran yang selama setengah jam duduk setelah mengaku menolak memperpanjang kontrak, untuk pertama kalinya tersenyum menatap pria berusia hampir kepala enam di hadapannya. Bukan senyum puas karena akan menjadi aktor dengan bayaran tertinggi, seolah-olah uang adalah alasan semata agar dia bisa dipertahankan di PE.

Pasalnya keputusan Jibran untuk tidak memperpanjang kontrak sudah bulat dan tidak akan berhasil dipengaruhi oleh apa pun, termasuk uang.

“Dibujuk kayak apa pun, saya nggak bisa perpanjang kontrak, Mister Timon. Saya nggak masalah karier harus berhenti di usia yang menurut Anda masih punya potensi. Saya udah ngerasa cukup jadi aktor selama hampir delapan tahun. Jadi, saya harap Anda mau menerima keputusan saya untuk nggak memperpanjang kontrak.”

“Apa ada agensi lain yang nawarin kamu buat bergabung?”

Jibran menggeleng. “Enggak ada.”

“Jadi, kamu berhenti berkarier atau cuma putus kontrak?”

“Saya masih terikat sama beberapa brand sebagai ambassador, jadi saya fokus sama itu. Sedangkan untuk film, saya nggak keberatan untuk berhenti.”

“Apa rencana setelah kontrak kamu sama beberapa brand itu selesai?”

Jibran menggeleng dengan enteng dan menjawab, “Enggak ada.”

Timon menaikkan sebelah alisnya, sedikit mencondongkan tubuhnya untuk berusaha mengubah pikiran Jibran yang masih bersikeras tidak mau memperpanjang kontrak.

“Kalau kamu berhenti sepenuhnya setelah keluar dari sini, belum tentu bisa balik lagi ke dunia hiburan, Jibran.”

Timon bicara seraya mengetukkan jari telunjuknya di atas meja, ingin menegaskan setiap kata yang mengudara di ruangannya.

“Apalagi kamu juga nggak ada rencana setelah keluar dari sini. Pasti jauh lebih sulit buat bertahan dan kamu tahu sendiri jadi selebritas itu uang datang saat masih berkarier.”

Jibran manggut-manggut, dia sangat tahu itu. Selama kariernya masih baik dan meningkat, namanya tidak akan redup dalam waktu singkat. Meski nantinya Jibran terkena skandal, jika berkat skandal itu orang akan berlomba-lomba untuk menyorotnya, kariernya justru makin gemilang.

Well, bukankah begitu cara kerja industri hiburan di Tanah Air ini? Makin sensasional selebritas tersebut, makin besar pula namanya. Namun, Jibran tak ingin seperti itu. Karena ia tahu jika terlalu lama berada di dunia hiburan, makin terlena dengan ingar bingar dan keuntungan semata, maka makin sulit baginya untuk merangkak keluar.

“Saya bilang nggak ada rencana, bukan berarti sepenuhnya tanpa rencana, Mister Timon,” ucap Jibran yang masih tenang. Sang pemilik lesung pipi itu melanjutkan, “Anda cuma nggak perlu tahu banyak hal karena itu urusan saya setelah lepas dari PE.”

Timon mengetatkan rahangnya, tertantang oleh Jibran yang berani meremehkannya. Selama ini Jibran adalah aktor penurut yang tidak masalah diatur oleh agensi, selama itu tidak bertentangan dengan kontrak yang ada. Lantas kini, di saat kontraknya akan berakhir dalam hitungan bulan, Jibran berani sedikit membangkang pada Timon yang biasanya sangat ia hormati, seakan tidak takut dengan risiko mendatang jika menantang atasannya. Namun, Timon tak mau naik pitam karena masih ada lain hari untuk membujuk Jibran.

“Saya mau kita negosiasikan ini setelah acara tahun baru. Jadi, untuk sekarang saya nggak bisa nerima permintaan kamu untuk tidak melanjutkan kontrak. Apa kamu keberatan?”

Jibran mengedikkan bahunya, jadi lebih ringan setelah ketegangan yang ia rasakan terkikis pelan-pelan. “Saya nggak masalah, asalkan permintaan untuk nggak lanjutin kontrak bisa diterima.”

Timon mengembuskan napas berat, seakan tidak terima mendengar kegigihan Jibran untuk tidak melanjutkan kontrak. “Kamu yakin nggak akan nyesel kalau saya terima keputusan kamu?”

Jibran menggeleng mantap. “Saya nggak akan pernah menyesal.”