Morning View

Pagi ini Eila bangun di tempat asing, tapi tak butuh waktu lama baginya untuk mengenali di mana tempat ini. Eila ingat dia menginap di rumah Jibran dan tidur di kamar tamu lantai satu, sedangkan Natta yang ikut menginap tidur di kamar tamu lantai dua. Eila mengerjap beberapa kali sembari bangkit dari posisinya, lalu duduk bersandar pada kepala kasur sembari melihat-lihat sekitar.
Untuk kamar tamu dengan kamar mandi dalam, ukurannya terbilang luas dibandingkan kamar Eila sendiri. Dindingnya berwarna pastel, ada lemari satu tingkat berwarna putih untuk menyimpan baju, nakas, meja rias, dan tempat anduk di dekat jendela agar langsung disinari oleh mentari. Kamar ini terlalu nyaman sampai Eila bisa saja betah jika diminta untuk tinggal lama-lama. Namun, Eila tak mungkin terlena karena dia punya pekerjaan.
Demi menginap, Eila sampai harus tutup order untuk sehari dulu karena takut tidak bisa mengejar. Maklum, hari ini dia harus fokus latihan dengan Jibran sebagai partner-nya. Eila berdiri, lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya agar lebih segar. Setelah itu Eila keluar dari kamar untuk mengambil minum demi menyegarkan tenggorokannya. Rumah Jibran ini seperti memantrainya, karena meski di rumah orang lain—aktor pula—Eila bisa berlaku sesukanya.
Saat dia hampir tiba di dapur, langkahnya mendadak berhenti ketika melihat pemandangan pagi yang paling indah. Ya, itu Jibran. Sedang berdiri di depan kulkas sambil meminum sekotak susu. Bukan itu saja yang menjadi indah, penampilan Jibran di pagi hari yang—err, seksi, menjadi bagian terbaiknya. Jibran hanya mengenakan boxer, hingga menampilkan otot perut, otot kaki, dan bicepsnya. Rambutnya sedikit berantakan, lalu jakunnya naik turun ketika sekotak susu itu larut ke tenggorokannya.
Sebagai perempuan normal, pemandangan tidak biasa ini membuatnya menganga kecil sampai tidak berkedip, seakan tidak ingin melewatkan satu titik pun dari Jibran. Oh, ini jelas bahaya, tapi Eila tetap berjaga tanpa peduli dianggap aneh.
Eila yang tadinya fokus pada perut Jibran yang berbentuk dengan sempurna, kini beralih pada biceps Jibran yang berwarna merah seperti bekas luka. Bukan bekas luka kecil yang bisa diabaikan, melainkan bekas luka cukup besar yang membuat Eila bertanya-tanya. Eila tak lagi memandang Jibran dengan tatapan ‘lapar’, justru berubah menjadi rasa iba karena luka itu cukup mengganggu untuk banyak orang. Eila tidak jijik, malah penasaran dari mana luka itu berasal.
Jibran yang akan menyingkir setelah menghabiskan susunya, tiba-tiba memaku di tempat kala menyadari ada Eila yang mengamatinya—entah sejak kapan. Jibran yang sadar bagaimana kondisinya sekarang jelas salah tingkah karena malu. Matanya liar memandang ke sana kemari untuk mencari rute kabur yang aman agar tidak melewati Eila.
Terbiasa tidur hanya dengan boxer sepertinya harus Jibran ubah, apalagi dia tidak ingat Eila menginap dan sekarang harus menemukannya dalam kondisi minim busana. Namun, rasa malu itu berubah menjadi kekhawatiran ketika Jibran sadar ke mana arah Eila memandangnya.
Ya, bekas lukanya. Bekas luka yang menganga jelas dan menjijikan untuk dilihat. Jibran berbalik memunggungi Eila untuk menutupi bekas luka itu, meski ia sadar sudah percuma karena Eila telanjur melihatnya secara jelas.
Eila yang paham lantas mengalihkan pandang, lalu berjalan mendekati meja marmer untuk mengambil gelas yang tertata di sana, kemudian mengambil minum di dispenser yang berada tepat di samping kulkas. Eila sebisa mungkin tidak menoleh ke arah Jibran yang berusaha kabur darinya, sampai akhirnya pria itu berhasil pergi kembali ke kamarnya dan mengurung diri di sana.
Sekarang Eila mengerti kenapa Jibran sering memakai pakaian lengan panjang. Yup! Demi menutupi lukanya. Eila menduga luka itu bukan luka biasa karena Jibran sampai panik ketika Eila melihatnya. Eila ingin tahu dari mana luka itu berasal, tapi dia sadar bertanya pada Jibran malah akan meruntuhkan rasa percaya dirinya. Jadi Eila akan bertanya pada orang yang tepat untuk menghilangkan segala pertanyaan di benaknya.
