Rencana Dadakan

Latihan pertama di rumah Jibran tidak langsung dilaksanakan karena Eila tengah memeriksa lembaran yang perlu diisi oleh sang aktor. Sejak dari rumahnya, Eila sudah berekspektasi kalau Jibran akan mengisi dengan sepenuh hati agar latihan pertama bisa dimulai dengan sesuatu yang pernah dialami oleh sang aktor.
Sayang, ekspektasi Eila harus runtuh karena Jibran tidak mengisi sesuai harapan. Pada pertanyaan pertama, Jibran hanya menjawab tipe perempuan yang dia suka adalah berambut hitam. Pertanyaan kedua, Jibran menjawab secara singkat yaitu tidak tahu ke mana akan mengajak pacarnya kencan. Pada pertanyaan ketiga, Jibran mengaku tidak pernah memiliki mantan. Sedangkan pertanyaan terakhir ….
“Kenapa kamu nggak isi pertanyaan terakhir?” tanya Eila tajam sembari menunjukkan pertanyaan terakhir pada Jibran yang duduk di hadapannya.
Jibran diapit oleh Trian dan Natta yang duduk di samping kanan dan kirinya.
“Pertanyaan terakhir ini penting,” tegas Eila seraya meletakkan selebaran di meja.
Natta menatap kakaknya ngeri karena belum apa-apa Eila jadi menakutkan dan sok berkuasa. Natta yang ikut ke rumah Jibran sampai lupa ingin mengenalkan diri sebagai penggemar, dia juga tidak sempat melihat-lihat kediaman mewah Jibran yang dihuni sendirian. Lain halnya dengan Trian yang rahangnya mengeras, antara kesal dan panik karena Eila bertindak di luar dugaan. Trian khawatir Jibran jadi tidak nyaman saat latihan dimulai, ekstremnya membatalkan latihan bersama Eila, lalu persiapannya untuk film terbaru pun harus gagal.
“Emang pertanyaan di kertas itu penting?” Jibran malah balik bertanya sebagai balasan, membuat atmosfer di rumahnya tak secerah mentari yang bersinar terik di luar.
“Penting,” jawab Eila sembari menyandarkan posisi duduknya. “Kamu minta bantuan aku sebagai partner latihan, jadi aku harus tahu kamu itu kayak gimana. Tapi karena aku nggak tahu banyak hal dan beberapa pertanyaan nggak berhasil dijawab, aku jadi berasumsi kalau kamu nggak punya pengalaman cinta sepanjang hidup kamu.”
Jibran menelan ludahnya susah payah, menahan lisannya untuk tidak membenarkan asumsi tersebut. Trian yang sudah tahu lebih dulu tahu mati-matian menahan tawa. Pun sadar kalau Jibran tidak mungkin mengakui begitu saja, terlebih pada Eila yang tergolong orang baru dalam hidupnya. Eila yakin dengan asumsinya, tapi dia tetap tidak percaya apabila asumsinya dibenarkan oleh Jibran.
Pasalnya dengan paras Jibran yang setampan itu, seharusnya mudah bagi dia menggaet perempuan untuk dijadikan pacar. Terlebih di industri hiburan, para selebritas jarang ada yang sepenuhnya lajang. Kalau tidak memiliki pasangan sungguhan, minimal pacar setting-an, gebetan, atau backstreet.
“Iya, aku emang nggak punya pengalaman apa-apa soal sesuatu yang berbau romantis.”
Eila menganga kecil ketika Jibran akhirnya mengaku. Natta menutup mulutnya dengan telapak tangan, sok dramatis. Sedangkan Trian terus menahan tawa agar tidak terbahak dan dituduh meledek aktor yang diurusnya. Eila mencoba mengendalikan ekspresi, lalu berdiri dan mondar-mandir di hadapan ketiga orang yang menatapnya bingung. Ada kiranya 30 detik Eila mondar-mandir tidak menentu, ia akhirnya berhenti dan menatap Natta, Jibran, serta Trian bergantian.
“Jibran, kamu bilang di chat kalau aku bisa dibilang guru akting juga, ‘kan?”
Jibran mengangguk. “Iya.”
“Kalau gitu aku nggak akan jadi partner biasa, tapi harus kerja ekstra.” Eila berkacak pinggang dan semangatnya tiba-tiba membara. “Natta, kamu jadi asisten aku. Kamu yang urus persiapan latihan kalau butuh. Kalau bisa tolong rekam juga setiap aku sama Jibran latihan, supaya aku tahu perkembangannya. Kak Trian, karena kamu udah kerja sama Jibran dari lama dan pasti hapal gimana aktingnya, aku mau kamu jadi penilai. Yah, bisa jadi sutradara juga yang ngatur saat latihan. Kamu paham, ‘kan? Oh, satu lagi,” Eila mengangkat jari telunjuknya, “aku yakin butuh suasana baru saat latihan, jadi kemungkinan latihan selain di rumah. Bukan tempat terbuka, tapi pokoknya—”
“Itu nggak mungkin,” putus Trian sebelum Eila menyelesaikan kalimatnya. “Kamu sama Jibran nggak boleh kelihatan bareng di luar, Eila. Jibran nggak boleh terlibat skandal apa pun selama terikat sama film.”
“Aku nggak minta di ruang terbuka, Kak. Aku minta di area yang beda sama di rumah, yang bisa kamu atur lokasinya supaya nggak ketahuan orang-orang. Kamu manajernya, ‘kan? Aku yakin kamu bisa lakuin itu.”
Trian berdecak, “Aku jadi kayak babu.”
Jibran menggigit bibirnya, kali ini dia yang menahan tawa mendengar keluhan Trian, ditambah tidak berani melawan Eila ketika menunjukkan ‘kuasanya’. Bila berpikir rencana dadakan yang Eila ciptakan membuat Jibran risi seakan dia aktor amatir, maka itu salah. Justru Jibran menyukai cara Eila mempersiapkan latihan dengan baik meski dadakan, yang artinya pilihan Jibran tidak salah untuk meminta bantuan Eila. Wanita itu bisa diandalkan, layaknya profesional padahal bukan.
“Kamu sendiri gimana?” Kali ini Eila menaruh atensinya pada Jibran. “Kamu keberatan dengan cara aku?”
Jibran yang sedikit melamun kembali ditarik ke realitas berkat pertanyaan itu. Ia menggeleng pelan dan menjawab, “Aku nggak keberatan sama sekali.”