Shoot Her

Menembak adalah salah satu keahlian Jibran yang menjadi andalannya di setiap film laga. Jibran sudah terlatih sejak SMA dengan mengikuti klub menembak, lalu ditawarkan untuk ikut sekolah akting oleh ibunya karena tahu Jibran suka berakting, sampai dia bisa debut dengan film laga perdananya.

Jibran ingat peran pertama yang ia dapat adalah sebagai anak dari seorang Mafia yang diculik, dianggap tidak penting oleh banyak orang, tapi ternyata Jibran adalah tokoh berpengaruh yang menjadi otak di balik penculikannya sendiri. Dalam film, Jibran pura-pura diculik untuk memancing beberapa pasukan elit yang dipercaya untuk mencari keberadaannya. Rupanya di akhir film, terungkaplah siapa sosok Jibran selanjutnya yang kemudian melakukan aksi balas dendam untuk membayar kematian orang tuanya.

Walau dalam film Jibran tetap kalah karena pemeran utama yang terdiri dari pasukan elit itu menang, Jibran tetap mencuri perhatian penonton hingga dia mendapatkan penghargaan pertamanya sebagai aktor pendatang terbaik.

Masa-masa awal kariernya sangat indah, tapi lebih indah lagi kala kini Jibran melatih kemampuan menembaknya bersama Eila. Seperti yang diminta, Trian menyewa satu tempat latihan menembak di bilangan Selatan di dalam gedung mal khusus untuk Jibran dan Eila.

Tentunya Trian keberatan, tapi dia tidak punya kuasa untuk banyak melarang. Makin dilarang, keinginan Jibran malah harus dipenuhi. Jadi daripada lelah berperang dengan keras kepalanya Jibran, lebih baik Trian menurut selagi lokasi latihan aman dari banyak orang.

Saat ini Jibran sudah memulai latihan menembaknya dengan pistol, mengarahkan senjata pada target, dan mulai menyerang seakan-akan di depan itu adalah musuhnya dalam film. Eila yang duduk di belakang sesekali menutup telinga karena tidak kuasa menahan suara tembakan yang nyaring dan memekakan telinga.

Saat peluru pada pistol Jibran sudah habis, barulah ia menaruh atensinya pada Eila yang akhirnya bisa tenang dari suara tembakan.

“Jadi, kamu mau latihan sekarang?” tanya Jibran sembari mengambil satu pistol dari meja di depannya yang masih terisi penuh oleh peluru. “Biar aku ajarin.”

Eila menelan ludahnya susah payah, takut sebenarnya, karena ini akan menjadi pertama kalinya bagi Eila menembak. Namun, karena Eila memiliki rencana lain dengan dalih latihan akting, mau tidak mau Eila harus memiliki nyali untuk melakukannya.

Eila berdiri dan mendekati Jibran, lalu mengambil pistol secara sembarang tanpa tahu tekniknya. Jibran tertawa karena cara Eila mengambil pistol itu terlalu buru-buru, menunjukkan bahwa dia gugup, bukannya berani.

“Megangnya nggak gitu, tapi gini.” Jibran menunjukkan cara memegang pistol sembari memegang pistolnya yang tadi pelurunya telah habis.

Bukannya mengikuti cara Jibran, Eila malah memberikan pistolnya. “Coba tolong kamu contohin sambil pegang tangan aku. Biar aku tahu harus kayak gimana. Kalau lihat doang, aku nggak paham.”

Jibran yang langsung paham apa maksud Eila, segera meletakkan pistolnya kembali di meja, lalu mendekat pada Eila dan menyentuh tangannya dengan hati-hati. Dengan gerakan teratur, Jibran berdiri di belakang Eila, masih dengan tangan yang bersentuhan dengan Eila.

Perlahan Jibran mengangkat kedua tangan Eila dan meluruskannya ke arah target, sembari memberi tahu cara memegang senjata yang benar. Eila fokus pada instruksi Jibran, tapi ia juga tahu ketika Jibran mulai memberi jarak agar tak terlalu rapat dengannya.

Tidak mau momen yang bisa berubah romantis ini sia-sia, Eila berkata, “Lebih dekat sama aku, Jibran.”

“Gimana?” Jibran tidak tuli, hanya saja ingin menyakinkan apakah yang dikatakan Eila sesuai dengan yang ada di pikirannya atau tidak.

“Badan kamu harus lebih dekat sama aku, Jibran. Seakan-akan kamu lagi meluk aku.”

Astaga! Rupanya yang dikatakan Eila sama dengan dugaan Jibran. Ada keraguan dalam diri Jibran, padahal Eila sendiri yang berkata mereka bisa memanfaatkan momen untuk latihan skinship lagi, tapi memeluk Eila? Pegangan tangan saja sudah membuat Jibran mati gaya, apalagi memeluknya.

“Jeremy … suka meluk Anata dari belakang—berdasarkan naskah yang aku baca. Jadi, kalau bisa kamu latihan juga buat—”

Kalimat Eila berhenti mengudara ketika Jibran tiba-tiba merapatkan posisinya, mengeratkan pegangannya pada tangan Eila yang menggenggam kuat senjata, dan menipiskan segala jarak yang mereka miliki. Sekarang giliran Eila yang mati gaya karena dada Jibran begitu menempel dengan punggungnya, sampai-sampai Eila menahan napas karena kedekatan di luar nalar ini.

Jangankan Eila, Jibran saja sudah ingin mundur dari posisi yang begitu menyiksa debar jantungnya, tapi dia juga sudah terlena dengan kedekatan mereka. Terlebih ketika Jibran bisa melihat sudut kiri wajah Eila yang tampak cantik, membuainya untuk terus dalam posisi ini. Jibran menggeleng sekali, kembali mengumpulkan konsentrasinya untuk mengajarkan Eila menembak.

“Udah ingat ‘kan yang tadi aku ajarin?”

Eila mengangguk setelah kesadarannya terkumpul penuh. “Udah.”

“Kalau gitu mulai nembak di hitungan ketiga.”

Suara Jibran berada tepat di telinga Eila. Embusan napasnya meninggalkan sensasi geli yang Eila tahan mati-matian. Sebelah tangan Jibran menyentuh pundak Eila, sengaja agar sang puan lebih relaks. Lantas ketika Eila sudah relaks, Jibran mulai menghitung dengan suara yang merdu. Sampai di hitungan ketiga, Eila menembak pada target di depannya sebanyak tiga kali dalam satu kali hitungan.

Semua bidikan tepat sasaran yang membuat Jibran tersenyum bangga, sedangkan Eila syok karena dia bisa menembak meski tak seahli sang profesional. Pistol di tangan Eila sampai jatuh ke meja karena dia langsung lemas, tapi beruntung ada Jibran yang segera mengelus pundak Eila agar tenang.

“Kamu keren. Sekarang mainnya udahan.”

Eila hanya mengangguk, karena dia tidak mau bermain lagi. Untuk pemula sepertinya, menembak menjadi sesuatu yang menyeramkan meski sudah ditemani oleh Jibran. Omong-omong soal Jibran, pria itu masih setia menempel pada Eila meski sudah tidak menggenggam tangannya.

Eila sudah meluruskan tangannya, tapi belum berani beranjak dari tempatnya. Antara lemas untuk mengambil langkah dan menikmati kedekatannya dengan Jibran. Sama halnya dengan Eila, Jibran pun tidak mau menjauh, begitu betah di posisi yang baginya menyenangkan.

Jibran pandang wajah Eila dari posisinya, begitu menawan meski hanya melihat sedikit bagian. Tiba-tiba fokusnya berubah pada bibir merah cherry Eila yang makin menambah pesonanya ketika tersenyum. Jibran menggeleng sekali untuk mengembalikan fokusnya yang tadi, tapi gagal karena Eila malah menoleh hingga jarak pandang mereka hanya satu jengkal.

Eila mengerjap terkejut, sedangkan Jibran malah menahan napas akibat gerakan tiba-tiba itu. Lagi, fokusnya malah beralih pada bibir merah cherry yang menggoda Jibran. Eila meremas ujung kemejanya, tak mampu bergerak dengan kedekatan yang makin memekarkan segala rasa dalam dirinya.

Rasanya ingin Eila peluk Jibran, tapi apa haknya melakukan itu? Eila tak boleh lancang melakukan sentuhan fisik di luar latihan, tapi sungguh, ingin rasanya berlindung di balik dada bidang itu demi meringankan segala bebannya. Pandangan mereka masih saling beradu, seakan saling merayu dalam bisu, tanpa ada yang mau beraksi sebagai pendahulu.

Sampai akhirnya salah satu dari mereka mau membuka lisan, menyampaikan sesuatu yang telah berhimpun sesaat setelah mereka beradu pandang.

“Eila, apa harus kita latihan untuk … kiss scene?”