Star Corner


“Wah! Akhirnya aku bisa lihat trofi punya Kak Jibran secara langsung!”
Natta berseru heboh sembari menatap takjub pada rak kaca berisikan trofi kemenangan Jibran sepanjang karier aktingnya, serta beberapa foto dokumentasi yang menjadi bukti kesuksesannya. Rak itu diberi nama Star Corner, berada di ruangan yang sama dengan piano Jibran.
Dari hasil hitungan Natta, ada total 45 penghargaan yang Jibran terima sepanjang 8 tahun berkarier dari beberapa ajang penghargaan. Mulai dari aktor baru terbaik, aktor pendukung terbaik, aktor laga terbaik, sampai actor of the year yang Jibran dapatkan 5 kali berturut-turut di penghargaan yang sama. Tidak ingin melewatkan momen berharga, Natta memotret setiap penghargaan yang ada untuk koleksi pribadinya.
“Aku makin kagum sih sama Kak Jibran,” ucap Natta sembari menghampiri Eila yang duduk di ruang tengah dengan televisi menyala. “Aku termotivasi jadi aktor laga juga, deh. Keren nggak, sih?”
Eila menatap adiknya yang kini berdiri di samping sofa sembari berpose memegang pistol seperti Jibran di banyak filmnya. Eila tersenyum mengejek, malah geli melihat pose Natta yang kaku dan aneh.
“Mending kamu duduk. Aku udah bikinin susu.”
Natta berdecak lidah dan langsung menurut pada perintah Eila. “Aku udah gede masih aja dibikinin susu,” gerutu Natta sembari meraih segelas susu di meja, lalu menghabiskannya setengah. “Tapi enak, jadi aku nggak bisa nolak. Thanks, Kak.”
Eila hanya mengangguk, lalu netranya fokus pada televisi yang sudah memulai talkshow di mana Jibran menjadi salah satu bintang tamunya. Omong-omong, hari ini Eila dan Natta menginap di rumah Jibran. Sesuai yang diperintahkan sang aktor, Eila dan Natta berangkat ke rumah pada siang hari sebelum Jibran dan Trian pergi ke studio tempat talkshow diadakan. Talkshow dijadwalkan malam, tapi Jibran ada jadwal lain dengan produser terkait filmnya, jadi dia pergi lebih cepat.

Dalam talkshow Jibran mengenakan kaus putih dengan outer kemeja hitam yang selaras dengan warna sepatunya. Jibran tampak seperti anak muda, tidak terlihat seperti laki-laki yang usianya hampir menginjak kepala tiga. Sepanjang menonton, Eila tersenyum. Bukan hanya karena Jibran yang terlihat menawan di televisi—yang jujur saja, ini pertama kalinya Eila menonton televisi karena Jibran—tapi karena pembawaan host kondang Indra Herlambang yang sangat menghibur dan membuat suasana talkshow terasa hidup.
“Berarti sampai sekarang belum ada ya pemeran utama perempuannya di film terbaru?”
“Untuk sekarang masih proses audisi. Makanya belum bisa ngasih tahu detailnya.”
“Tapi kalau Jibran boleh berharap sama pemeran utama perempuan nih, maunya yang kayak gimana, sih? Siapa tahu kamu ada kriteria tertentu gitu.”
“Enggak ada sih kalau yang harus sesuai aku banget. Soalnya kalau jadi pemeran dalam film yang dinilai itu pasti aktingnya. Jadi, kriterianya udah pasti gimana dia akting seperti tokoh dalam filmnya. Improvisasi juga penting, tapi sosok Anata tetap harus nempel sama dia. Makanya dari pihak Samuti Rakha milih beberapa aktris yang ciri fisiknya minimal mendekati sosok Anata ini, tapi kalau dari aku nggak ada kriteria tertentu karena yang dilihat aktingnya.”
Pertama kalinya Eila melihat Jibran diwawancara langsung seperti ini dan kagum pria itu bisa menjawab dengan santai. Coba kalau Eila yang ada di sana. Bukannya santai, Eila bisa mati gaya karena tidak tahu harus apa di depan kamera.
Acara itu tengah menayangkan sebuah VT* berupa pertanyaan dari penggemar Jibran yang diambil dari komentar Instagram. Mayoritas pertanyaan terkait film dan masih aman. Baru di pertanyaan terakhir berupa hal yang sedikit pribadi—yang Eila yakin sengaja disisakan terakhir oleh pihak kreatif.
(*Video Tape)
“Pertanyaan terakhir.” Indra bicara sedikit heboh dari sebelumnya. Sengaja untuk memanaskan suasana di studio. “Jibran lagi naksir sama seseorang nggak, sih?”
Penonton di studio bereaksi riuh. Pun Jibran yang tertawa kecil dan malu karena pertanyaan itu muncul tanpa ia duga. Jibran menyugar rambutnya sebagai pengalih rasa malu, sedangkan Indra memancing Jibran untuk bertanya. Natta yang menonton mengepalkan tinjunya karena greget menunggu jawaban, dia juga kepo berat siapa yang sedang Jibran taksir.
“Aku jadi yakin pertanyaan yang Kak Jibran kasih ke aku waktu itu maksudnya dia, deh,” ucap Natta yang masih tak sabar menunggu jawaban Jibran.
Eila mengernyit. “Pertanyaan?”
“Dia nanya gimana caranya ngaku ke seseorang kalau dia sama orang itu alumni di sekolah yang sama. Sebelumnya nggak ngaku, tapi sekarang pengen ngaku gitu, deh. Katanya ada di naskah, tapi aku yakin nggak mungkin. Cuma diam aja, orang itu urusan pribadi. Aku mana berani nanya.”
Eila melirik ke arah Natta sebentar, lalu kembali fokus pada televisi. Khususnya pada Jibran yang masih bungkam sambil senyum-senyum malu karena tidak menduga pertanyaan itu akan terlontar begitu saja. Eila jadi penasaran siapa yang dimaksud Jibran sampai bertanya pada Natta. Tentu saja naskah yang disebut Jibran pada Natta itu bohong karena tidak ada scene itu dalam naskah.
Lebih penasaran lagi dengan jawaban Jibran terkait pertanyaan yang ada dalam VT tadi. Mungkinkah orangnya sama dengan yang pernah Jibran ceritakan sekilas setelah bernyanyi untuk Eila? Kalau iya, Eila mulai tidak nyaman. Tiba-tiba dia jadi menolak untuk mendengar, ingin menulikan telinga, tapi juga penasaran dengan jawaban Jibran.
“Gimana, nih? Ada nggak? Coba jawab sambil lihat kamera.”
Dalam layar televisi, Jibran yang awalnya menunduk akhirnya menatap ke arah kamera, hingga Eila merasa Jibran tengah menatap lurus ke arahnya. “Ada.”
“Wow. Orangnya tahu nggak?”
Jantung Eila kembali berdebar menantikan jawaban Jibran selanjutnya. Detik demi detiknya terasa lambat, padahal kalau dihitung sepertinya hanya jeda sepuluh detik dari pertanyaan menuju jawaban. Namun, bagi Eila ini memakan waktu beberapa menit yang menyiksa. Lantas ketika jawaban akhirnya digaungkan Jibran yang ditonton oleh jutaan orang di negeri ini, dada Eila tiba-tiba sesak mendengarnya.
“Orangnya nggak tahu, tapi aku harap bisa ngasih tahu ke dia secepatnya.”