Strategi Lain

“Eila, kamu lumayan. Jibran, ini jelas bukan kamu banget.”

Komentar Trian setelah 10 kali take untuk scene perkenalan membuat Jibran mendesah kesal. Tentunya bukan karena Eila yang dipuji, bukan pula karena dia yang diberi komentar buruk, melainkan kesal pada diri sendiri yang tidak bisa totalitas dengan aktingnya. Padahal scene pertama sudah sukses, tinggal diasah agar lebih natural saat di depan kamera nanti. Sayangnya di scene kedua, di mana dalam naskah Jibran dan perempuan yang membuatnya tertarik berkenalan secara tidak sengaja, harus gagal ia lakukan tanpa ada perkembangan yang berarti.

Selama berkarier, untuk pertama kalinya Jibran merasa dirinya sangat payah. Rupanya sesulit ini memainkan karakter pria romantis yang harus terlihat manis setiap saat tanpa berusaha terlalu keras untuk menunjukkan karakter seperti itu. Namun, Jibran tidak bisa menyerah. Selain kontrak sudah di tangan, Jibran juga ingin segera bebas dari Punch Entertainment.

Jibran, Trian, Eila, dan Natta berada di practice room di rumah Jibran. Ruangannya luas, dengan dinding polos dan cahaya yang terang, ada sofa dan meja tempat untuk mengafal dialog, serta cermin besar di sisi kiri yang biasa Jibran gunakan untuk berlatih mimik. Tempatnya cocok untuk latihan sekarang, tapi setelah 2 jam berlalu, belum ada hasil yang jelas.

“Sebenernya karakter Jeremy ini mendekati Kak Jibran banget nggak, sih?” sahut Natta yang menunggu sesi latihan berikutnya. Ketika semua orang menaruh atensi pada Natta, dia melanjutkan, “Orangnya cuma ngomong hal yang dirasa penting, tenang, bukan orang yang ngeluh, apalagi tukang marah. Bedanya Jeremy ini punya mata dan senyum yang nunjukin kalau dia tertarik sama si pemeran utama, yang mana nggak dia kasih ke orang lain.”

Jibran manggut-manggut, dia setuju dengan penjelasan Natta. “Walaupun sama, aku harus keluar dari sosok yang sekarang supaya karakter Jeremy bisa masuk ke aku.” Jibran mengembuskan napas berat. “Itu susahnya.”

Trian menepuk bahu sang aktor yang ikut merasakan kesulitannya. “Aku yakin kamu bisa, Jibran. Kamu cuma belum terbiasa sama karakter yang manis kayak gini.”

Eila seketika membulatkan matanya mendengar kata ‘terbiasa’ yang memberinya ide. Eila sampai menepuk tangannya semangat, hingga tiga laki-laki di dekatnya terkejut, bahkan Trian sampai mengelus dada karena tidak bisa mendengar suara nyaring secara tiba-tiba akibat ulah Eila. Saking semangatnya, Eila sampai memukul lengan Jibran berkali-kali dan memeluk Natta yang juga di sampingnya.

“Kak, usahanya lagi sukses atau gimana, sih?” Natta susah payah bertanya karena dadanya sesak ketika dipeluk erat oleh Eila.

Sang puan mengurai pelukannya, lalu memandang Jibran dengan semangat membara karena merasa idenya kali ini sangat cemerlang. Jibran malah menaikkan sebelah alisnya, bingung kenapa Eila sesemangat ini. Pun menahan ekspresi karena Eila terlalu gemas dipandang begini.

“Bener kata Kak Trian kalau kamu belum terbiasa sama karakter Jeremy. Makanya aku punya ide bagus supaya kamu terbiasa dulu dengan karakter Jeremy. Caranya bukan dengan akting seakan-akan kamu Jeremy, tapi kamu harus hidup kayak dia, lakuin kebiasaan Jeremy, supaya kamu dapat feel sosok Jeremy ini,” jelas Eila dengan napas tersengal-sengal karena tadi terlalu semangat.

Trian yang paham maksud Eila langsung setuju dan ikut antusias. “Caranya gimana?”

“Seingat aku karakter Jeremy dijelasin punya kebiasaan siapin sarapan sendiri. Kamu gitu nggak?”

“Boro-boro. Aku yang nyiapin,” timpal Trian cepat yang membuat Jibran langsung melotot padanya sebagai sanksi.

“Iya, Trian yang nyiapin.” Jibran mau tidak mau harus mengakui hal memalukan itu di depan Eila.

“Mulai besok kamu harus nyiapin sarapan sendiri,” titah Eila tegas. “Lakuin hal kecil dulu dengan nyiapin sarapan, baru nanti hal yang lebih besar. Setelah terbiasa nyiapin sarapan sendiri kayak Jeremy, kamu nyiapin sarapan buat aku.”

“Hah?” Natta tiba-tiba menjadi tukang keong.

“Ada satu scene di mana tokoh perempuan nginep di rumah Jeremy, terus Jeremy nyiapin sarapan dengan manis. Di situ Jeremy ngaku dia suka. Jadi, nanti aku bakalan nginep di rumah Jibran seakan-akan aku—”

“Aku nggak setuju,” sambar Trian sembari berdiri di antara Eila dan Jibran untuk memberi jarak antara dua orang yang tidak memiliki ikatan itu. “Kalian dilarang berduaan.”

“Enggak berduaan, Kak. Nanti aku nginepnya sama Natta. Lagian nginep ini udah jadi persetujuan dari awal.”

“Tetap aja … aku nggak bisa ngasih izin,” cicit Trian yang tidak mampu membayangkan Eila berada satu atap dengan Jibran. Mau itu ada Natta, gagasan itu tetap tidak baik. “Ganti yang lain.”

“Enggak bisa. Ini strategi yang bagus. Jibran harus jadi Jeremy di kehidupan sehari-hari supaya terbiasa. Ini dilakuin maksimal 2 bulan. Setelah Jibran terbiasa sebagai Jeremy, kita baru latihan beberapa scene penting yang ada di naskah. Kamu nggak keberatan ‘kan, Jibran?”

Selagi Eila dan Trian debat, Jibran membuat pertimbangan atas strategi baru yang Eila buat demi mengasah aktingnya. Tanpa melihat Eila yang jadi mudah memengaruhi Jibran dengan perintahnya, harus diakui strategi itu sangat bagus dan tepat untuknya.

Selama latihan, Jibran hanya menyesuaikan dengan naskah tanpa improvisasi apa-apa. Jibran juga belum mengenal sepenuhnya karakter Jeremy yang terasa dekat, tapi nyatanya jauh dari sosoknya yang harus memerankan tokoh tersebut. Jadi benar kata Eila bahwa Jibran harus mau menggunakan strateginya, yaitu membiasakan diri sebagai Jeremy. Di saat semua mata tertuju padanya, Jibran menatap Eila dalam setelah membuat keputusan. Jibran tersenyum, hanya untuk Eila yang menantikan jawabannya.

“Aku setuju, Eila.”


Jangan lupa komentarnya ^^

Bonus