Sumber Luka

Marni datang pada sore hari, niatnya akan menginap untuk membantu Martin menjaga Markus, selagi beliau mengawasi kondisi Martha yang mudah berubah-ubah. Tadi siang ketika mengirim pesan, Martin berkata bahwa Martha baik-baik saja, tetapi harus hati-hati ketika mengajaknya bicara agar tidak mengguncangnya terlalu dalam. Jika Martin sampai berkata demikian, maka artinya kondisi sang putri sangat parah sampai diajak bicara saja tidak bisa seenaknya.

Kedatangan Marni disambut dengan baik oleh Martin yang sebenarnya waswas bila mertuanya tidak disambut terlalu baik oleh sang istri. Namun, Martin tidak mungkin menolak karena bagaimanapun Martha pasti butuh dukungan besar dari orang terdekat—meski beliau menjadi salah satu sumber lukanya.

“Di mana Martha?” tanya Marni pelan ketika Martin membawakan tas mertuanya yang berisi pakaian dan keperluan pribadi untuk dua malam.

“Di ruang keluarga, lagi nonton. Markus sekarang lagi tidur di kamar. Bunda langsung samperin aja, ya. Biar aku simpan ini dulu di kamar.”

Marni manggut-manggut ketika Martin pergi lebih dulu menuju kamar tamu, sedangkan wanita itu berjalan mendekati sumber suara dari televisi yang ada di ruang keluarga tempat Martha berada. Pelan sekali Marni mendekat, sengaja tidak mau mengejutkan Martha atas hadirnya.

Marni ingin presensinya jadi dinanti dan dibutuhkan, tanpa penolakan apalagi beliau pernah diusir dan setelahnya tidak ada komunikasi lagi yang tercipta.

“Martin, kamu nyimpen tas siapa di kamar tamu?”

Suara Martha menunjukkan keheranan, dari posisinya Marni pun bisa melihat putrinya berdiri kala Martin keluar dari kamar tamu. Alih-alih menjawab, Martin malah menatap Marni yang memaku di tempatnya, hanya tinggal beberapa langkah dari Martha yang menunggu jawaban dan belum sadar ada tamu di belakangnya.

Begitu menyadari mata Martin tidak menatap lurus ke arahnya, Martha lantas menoleh untuk menemukan sosok yang diperhatikan oleh suaminya. Saat netranya beradu pandang dengan Marni yang mulai mendekatinya, Martha justru menjauh dan lehernya tiba-tiba menegang seakan tercekik oleh sepasang tangan tak kasatmata yang membuat napasnya putus-putus.

“Nak, ini Bunda,” ucap Marni lirih saat tahu Martha ketakutan kala melihatnya.

Diberi tahu begitu malah membuat Martha kian gentar, lalu mengurung diri di balik pelukan Martin yang berusaha meraihnya agar tenang. Tubuh ringkih itu bergetar hebat dan Martin tahu itu bukan tanda yang baik untuk istrinya. Akan tetapi Marni tidak menyerah, beliau makin mendekat dan tidak takut untuk menyentuh pundak putrinya.

“Ini Bunda, Martha. Bunda nginep di sini, ya. Biar jagain kamu.”

Gagal luluh, Martha terus bersembunyi karena tidak mau melihat sumber lukanya lagi dalam jarak dekat. Marni yang syok dengan reaksi itu jelas tidak mau lepas, malah ingin menarik Martha agar berpindah ke pelukannya, memaksa sang putri agar berada dalam lindungannya.

Namun, pelan-pelan Martin beri pengertian melalui tatapan matanya bahwa Martha akan kembali seperti semula bila Marni tidak memaksa. Maka dengan enggan beliau tarik tangannya, mundur selangkah agar memberi Martha ruang untuk bisa bernapas lega barang sedetik saja. Nyatanya Martha tidak kunjung membaik, justru kian parah seakan jauhnya Marni tidak cukup untuknya bebas dari ketakutan yang telanjur dipupuk.

Usaha Martin pun sia-sia, sebab sebesar apa pun upayanya membujuk, Martha tidak mau menoleh pada Marni barang sesenti pun. Sungguh, hati Marni hancur melihat putrinya berada dalam belenggu luka yang tidak bisa sembuh.

Hadirnya Marni saja tidak jadi penyembuh, malah menambah luka yang tidak mampu ditutup. Bulir bening mulai membasahi pipi Marni yang gagal mendapatkan predikat ibu terbaik, karena nyatanya beliau telah menabur luka dan menuai siksaan ketika berusaha meraih Martha lagi.

Memori ketika Martha sering dijatuhkan dengan kalimat lembutnya terngiang bebas tanpa jeda, tidak memberi ampun ketika penyesalan itu akhirnya tiba saat Marni hampir terlambat untuk mengulurkan bantuan. Putrinya sendiri lupa siapa beliau, hanya tahu Marni adalah salah satu sumber luka paling besar yang jadi alasan Martha tidak tahu cara bangkit dari relung duka terdalam.