Sumpah Dendam
Hampir pukul sebelas malam ketika Martin dan Martha tiba di rumah setelah menjemput Markus di tempat kerabat. Tidak ada yang bicara sepatah kata pun selama perjalanan, apalagi Markus sudah tidur ketika diboyong pulang. Martha hanya menatap lurus ke arah jalanan dengan pandangan sendu. Martin tidak bisa membaca perasaan apa pun yang terpendam di balik bungkamnya lisan, tetapi dia yakin Martha tersakiti begitu hebat dipermalukan seperti itu di depan khalayak banyak.
Martha boleh berani unjuk gigi, kendati jika hasilnya sang istri tidak bangga apalagi gembira dengan usahanya, berarti apa yang dilakukan tadi malah menghancurkannya. Saat tiba di rumah, Martha tetap membisu seakan setengah ruhnya dibawa jauh oleh Sang Pelindung sebab tidak memiliki kuasa untuk menghadapi realitas yang telah hancur.
Markus sudah berada di ranjangnya, sedangkan Martha sedang menghapus seluruh riasan yang bagi Martin begitu cantik hingga betah dia pandang.
Atmosfer di sekitar kamar begitu beku akibat tidak ada lisan yang berseru. Hanya ada derap langkah kaki Martin yang mendekati Martha menuju meja rias, lalu mengelus pundak wanitanya yang sedikit bergetar sebagai dampak perlawanan dan pandangan banyak pasang mata yang menyaksikannya.
Bila Martha terluka, maka Martin pun merasakan hal serupa. Bedanya, Martin tidak mau diam terlalu lama dan membiarkan istrinya terkurung dalam belenggu lara yang dalam.
“Sayang, tadi itu di luar dugaan banget. Aku juga nggak tahu apa-apa, beneran,” ucap Martin ketika Martha masih membersihkan riasannya. “Kamu boleh nangis supaya lega, soalnya yang tadi itu berat banget. Maaf aku nggak tahu kamu chat, aku malah asyik sama yang lain dan nggak jagain kamu selama di sana.”
Martin terus membujuk istrinya, kali ini bukan untuk mendapatkan atensi semata, tetapi juga memengaruhi istrinya agar tidak memendam apalagi menahan aksara yang sepatutnya runtuh—baik melalui lisan atau air mata.
Martin kecup puncak kepala Martha, bukan untuk membagi kemesraan, melainkan mendamaikan pikiran istrinya yang pasti dipenuhi durjana manusia biadab tak berakal.
“Kamu mau marahin aku juga silakan, itu lebih baik daripada diam gini. Please, jangan bikin aku panik karena kamu nggak ngomong apa-apa.”
Martha tidak goyah, malah berdiri dan berjalan menuju lemari, membukanya lalu mengeluarkan pakaian malamnya seakan Martin hanyalah hantu pengganggu yang presensinya tidak penting untuk jadi tahu. Martha masuk ke kamar mandi, menguncinya rapat, meninggalkan Martin sendiri dalam ketidakpastian atas segala emosi yang dipendam.
Diamnya Martha bak belati yang membelah emosi Martin menjadi beberapa bagian—marah, sedih, terluka, hancur, dan penuh dendam. Namun, Martin tahu tidak bisa dibandingkan dengan yang dialami Martha, sebab dia korban sesungguhnya. Korban dari kejamnya lidah berbisa dan jari tajam yang melukai Martha.
Martin yang berdiri di depan pintu kamar mandi mengepalkan tinjunya, bersumpah malam itu juga dia akan menghabisi siapa pun yang telah melukai separuh hidupnya.