Tindakan


Perayaan tahun baru diadakan di rooftop gedung Punch Entertainment. Selain oleh karyawan PE, acara tahun baru dihadiri oleh kalangan selebritas PE dan di luar PE, para sineas yang pernah bekerja sama dengan PE, produser film, tentunya dengan awak media yang ikut meliput kemeriahan acara tahun baru ini.
Acara tahunan yang rutin diadakan juga dimeriahkan oleh para penyanyi Tanah Air yang menyumbangkan suara mereka, makin menambah kemeriahan sembari menunggu pergantian tahun dengan suara nyanyian bersama di setiap sisi rooftop.
Jibran yang ikut hadir dan tidak pernah melewatkan acara ini sesekali bernyanyi dengan lirik seadanya di kepala, bersama sebelah tangan yang sibuk membawa segelas sampanye, sedangkan sebelah tangan lain bergerak mengikuti alunan musik. Di sampingnya ada Ardani Trian Madaharsa, manajer Jibran yang lebih akrab disapa Trian ini mengangkat gelas sodanya tinggi-tinggi sambil ikut bernyanyi ketika Tulus berada di atas panggung.
Jangan heran ketika Trian terlihat paling antusias dengan pesta tahun baru ini. Pasalnya Tulus adalah penyanyi idolanya, jadi sudah jelas Trian heboh saat idolanya bernyanyi, kontras sekali dengan Jibran yang masih stay calm di tempat.
“Aku minta tanda tangan pasti dikasih dong, ya,” ucap Trian dengan suara lantang, sengaja agar Jibran mendengar jelas di kala musik berkumandang cukup keras. “Untung tahun ini Mister Timon ngundang Tulus. Aku jadi semangat karena ada dia. Biasanya ‘kan sedikit ogah.”
“Waktu itu ada Isyana juga semangat.”
“Beda, dong. Sekarang ‘kan dia udah nikah. Aku semangatnya harus ditahan dikit biar nggak lupa dia udah bersuami.”
Jibran hanya terkekeh pelan yang jadi angin lalu bagi Trian karena tak mendengar jelas. Trian menghabiskan satu gelas soda setelah Tulus selesai menyanyikan dua lagu secara berturut-turut. Sebenarnya dia butuh yang lebih keras dibandingkan soda, seperti yang ada di tangan Jibran sekarang.
Sayangnya Trian harus menahan diri karena khawatir Jibran terlalu banyak minum dan mabuk. Kalau sudah begitu, Trian otomatis jadi supir dadakan yang tidak mungkin membiarkan aktornya pulang sendiri, ditambah lagi dia tidak memercayakan orang lain mengantar Jibran.
“Soal nggak memperpanjang kontrak, kamu nggak mau berubah pikiran?”
Suara Trian lebih tenang karena sekarang orang-orang sibuk menikmati kudapan yang disajikan. Tidak ada lagi penyanyi di panggung, jadi tak perlu usaha keras agar ucapannya terdengar.
“Apa aku pernah mundur saat udah mutusin sesuatu?”
Trian mengedikkan bahunya. Sepanjang mengurus Jibran, rekannya tidak pernah mengubah keputusan setelah membuatnya, termasuk dalam menerima film dan peran yang akan ia lakonkan. Apa pun risikonya, Jibran sudah siap menghadapinya. Maka ketika Jibran memutuskan untuk tidak melanjutkan kontrak, dia telah membuat beberapa prediksi terkait karier dan kehidupan pribadinya tanpa ada PE serta nama besar yang menjadi pilarnya.
Sembari memainkan gelas sampanye di tangan, Jibran berkata, “Jadi aktor laga emang impian aku dan pengalaman hampir delapan udah cukup. Aku nggak perlu pengalaman lagi karena udah dapat suka dukanya lumayan lama.”
Trian manggut-manggut dan tertawa pelan. “Dukanya dapat luka dan sempat cedera, ya.”
“Well, itu juga alasan aku mau berhenti,” balas Jibran sembari mengelus bicepsnya, tepat di mana bekas lukanya berada.
“I see.” Trian mengangguk paham, lalu mengembuskan napas berat. “Kalau kamu nggak perpanjang kontrak, aku belum tentu dapat aktor atau aktris yang diurusnya nggak susah. Sekarang aktor baru di PE pada songong sama staf. Aku nggak mau deh kalau jadi manajer mereka. Bukan bermaksud senioritas, tapi kalau nggak ngehargain staf yang capek-capek ngurus malah ngeselin.”
Jujur, Jibran tidak terlalu mengenal para pendatang baru di PE. Hanya mendengar kabar burung soal mereka setiap ke kantor PE dan yang diberitakan kurang lebih sama seperti yang dikatakan Trian. Well, apa pun itu, Jibran tak ingin ambil pusing soal orang lain meski masih satu bagian di agensinya. Selama orang itu tidak memengaruhi kariernya sampai kontrak selesai, Jibran memilih abai dan fokus dengan tujuan awalnya; tidak memperbaharui kontrak bersama PE.
Di saat Trian sedang mengambil kudapan, Jibran dihampiri seorang presenter dari acara infotainment di TV swasta, mengambil kesempatan untuk mewawancarainya.
“Jadi, film apa yang jadi project kamu dalam waktu dekat ini? Mengingat selama lima tahun terakhir kamu selalu punya dua project setiap tahunnya, pasti tahun ini pun sama.”
Presenter bernama Martha yang mengenakan gaun berwarna marun itu menjulurkan mic pada Jibran untuk menjawab pertanyaannya. Martha didapuk menjadi wakil dari programnya untuk meliput acara tahun baru. Wajahnya sangat familier karena setiap ada acara seperti ini, pasti Martha akan muncul. Beberapa kali juga meliput film Jibran saat sedang premier film, jadi kehadirannya sudah seperti kewajiban yang haram untuk dilewatkan.
“Untuk saat ini saya nggak bisa jawab.” Suara tegas Jibran di dekat mic membuat Martha manggut-manggut penuh rasa ingin tahu.
“Tapi boleh kasih sedikit bocoran film seperti apa yang bakal jadi project selanjutnya?”
“No, no. Enggak boleh ada bocoran sedikit pun. Itu masih jadi rahasia perusahaan.” Timon tiba-tiba muncul dan mencuri atensi Martha beserta kamera yang merekam. Timon merangkul akrab Jibran, sedangkan sebelah tangannya memegang segelas mocktail. “Tapi yang pasti film Jibran selanjutnya nggak kalah menarik dari yang sekarang. Iya, ‘kan, Jibran?”
Timon menatap Jibran penuh arti yang tentu langsung ditangkap apa maksudnya. Jibran menyeringai kecil kala menyadari bahwa Timon secara tidak langsung tengah memintanya untuk tetap bersama Punch Entertainment di hadapan banyak orang. Kegigihan Timon untuk mempertahankan Jibran tetap dilaksankan di keramaian, tapi tidak menarik keinginan Jibran karena tetap pada pendiriannya.
“Selama ini Jibran selalu main film laga. Apa nggak mau coba genre film lain?” tanya Martha yang kali ini ditujukan pada Timon.
“Well, itu sedang diusahakan, makanya saya nggak bisa ngomong banyak hal supaya jadi kejutan ke depannya.”
Martha berbinar antusias, makin penasaran, tapi tidak bisa banyak bertanya karena yakin Timon tidak akan memberikan jawaban sesuai harapan. Lantas atensi segera ia berikan kembali pada sang aktor utama yang tak nyaman, karena ia tahu Timon berusaha menekan Jibran agar tidak bicara aneh-aneh, khususnya terkait rencana kontrak yang masih perlu dinegosiasikan.
Jibran ingin kabur, tapi dia terpaksa memaku di tempat demi mengurangi gosip miring setelah acara selesai. Jibran tidak mau ada gosip aneh, mau itu gosip kecil atau besar.
“Kalau dari Jibran sendiri, apa bisa kasih bocoran terkait film berikutnya? Sedikit aja,” pinta Martha penuh harap karena dia ingin menyajikan berita eksklusif di programnya.
Jibran bisa merasakan rangkulan Timon yang mengetat, menandakan sebuah desakan agar Jibran tak bicara aneh-aneh selama kontrak dengan PE masih berjalan. Namun, kali ini Jibran tidak ingin jadi boneka yang bisa diatur. Sekali-kali ia ingin membangkang, termasuk di depan publik dengan kamera yang menyorotnya lurus. Toh, Jibran akan bebas setelah kontraknya habis. Jadi, biarkan Jibran menjadi dirinya sendiri sampai waktunya dengan Punch Entertainment benar-benar berakhir.
Di penghujung tahun saat euforia pergantian masa tengah dinantikan, Jibran menjawab dengan lantang tanpa peduli desakan dari sang atasan, “Saya nggak akan lanjutin kontrak bareng PE. Jadi, kemungkinan untuk nerima film baru lagi sangat kecil.”