hanyabualan

Sesuai yang diperintahkan Eila, pagi ini Jibran membuat sarapan sendiri dengan menu sederhana; tiga pancake yang disiram maple syrup dengan orange juice segar, membuat semangat paginya bangkit. Jibran akui dia sangat tergantung pada Trian yang biasa membawakannya sarapan atau beli secara online, jadi sedikit kaku ketika memasak lagi sampai satu pancake-nya gosong. Yah, tidak masalah.

Jibran masih bisa menikmati makanan buatannya sendiri, selagi itu bukan orang lain. Sembari menikmati sarapan di meja makan dengan tangan kanan memegang garpu, tangan kiri Jibran sibuk membuka lembaran naskah dan netranya membaca setiap dialog di sana. Sudah menjadi kebiasaannya saat berada dalam project, jadi jangan heran ketika Jibran membaca naskah di setiap kesempatan, seperti saat sarapan begini.

“Jeremy, kenapa kamu sok manis?”

Jibran gemas membaca salah satu dialog yang baginya menggelikan. Bulu kuduknya berdiri karena merinding, tidak tahu apa yang akan terjadi kalau sampai syuting dimulai dan Jibran harus mengucapkan dialog manis itu.

“Jibran, jangan patah semangat. Kamu harus keluar dari Punch dan lanjutin hidup normal.”

Semangatnya kembali bangkit, Jibran tidak mau dicap tidak profesional karena menyerah di tengah jalan, apalagi dia bukan aktor baru yang masih beradaptasi dengan lingkungan industri hiburan. Jadi sesulit apa pun, Jibran harus melakukan project ini sampai tuntas.

Di tengah sesi sarapan, Jibran jadi teringat Eila yang kali ini dekat dengannya. Bukan hanya dekat, Eila juga membantunya untuk mengasah kemampuan akting Jibran untuk film teranyarnya. Lantas Jibran diajak mundur ke memori lama yang masih membekas dalam ingatan, menjadi kenangan manis yang tidak akan pernah tergantikan meski sudah lewat bertahun-tahun, karena itu adalah momen pertama jantungnya berdebar cepat tanpa irama pasti, daksanya memaku akibat satu kali pandang, sedangkan perutnya seperti ada yang menggelitik dan sensasinya menyenangkan.

Bila boleh memutar waktu sejenak, saat SMP Jibran bukan sosok idaman, bahkan tergolong biasa saja yang masih beruntung punya teman dekat. Jibran bukan tipe siswa yang akan didekati oleh banyak orang untuk dijadikan teman, tapi beruntung tidak merasakan kejamnya geng sekolah yang tukang merundungi anak-anak kuper. Jibran ingat, di akhir semester dia diajak oleh temannya untuk menjadi volunter drama sekolah sebagai pembuat properti. Jibran yang ingin mengisi waktu luang langsung menerima ajakan itu demi menghilangkan jenuh hanya belajar di sekolah.

Sebagai tim di belakang layar, presensi Jibran tidak terlalu diindahkan oleh banyak pihak, selain diperintah oleh pelatih untuk membuat properti sesuai desain yang ada. Jika teman-temannya yang lain mengeluh, maka Jibran tidak. Alasannya bukan karena dia jago berkarya dengan peralatan membuat properti drama, melainkan karena di hari kedua menjadi volunter, dia melihat salah satu pemeran utama yang sedang latihan dan langsung membuatnya terpana.

Eila namanya. Sang pemeran utama sebagai tokoh Cinderella yang menawan. Untuk ukuran anak SMP, akting Eila terbilang bagus dan pelatihnya selalu memuji totalitasnya. Jibran juga mengaku kagum pada akting Eila, sampai dia sering curi-curi pandang setiap membuat properti ketika latihan berlangsung. Awalnya Jibran mengira debar jantungnya yang cepat terjadi karena dia terlalu kagum dengan akting Eila.

Namun lambat laun segalanya jadi lain. Perasaannya menguat, rasa tidak sabar ke sekolah demi bertemu Eila makin besar, semangat belajarnya membara, hampir setiap hari dia selalu memikirkan Eila, hingga akhirnya Jibran sadar perasaannya bukan kagum belaka, tetapi bertransformasi menjadi cinta yang untuk pertama kalinya ia rasakan.

Sayang, saat itu Jibran terlalu polos untuk mengetahui sebesar apa rasa cintanya. Dia juga terlalu polos untuk mengaku suka, karena Jibran merasa dunianya dan Eila saat itu berbeda. Eila adalah pemeran utama, sedangkan Jibran hanyalah manusia di belakang layar yang tidak layak untuk maju ke depan layar. Alhasil Jibran memendam perasaannya, berharap bisa diredam agar tak terlalu mekar.

Namun, usahanya gagal, karena saat Eila akhirnya tampil di panggung dan Jibran hanya menjadi penonton setelah bekerja keras membuat properti, perasaannya makin tumbuh tidak terkendali. Akting Eila begitu memukau hingga Jibran terbius dalam pesona dan dunianya.

Tak cukup kata untuk mendeskripsikan Eila saat itu, tapi yang pasti Jibran makin mencintai segala hal yang ada pada diri Ardania Eila Madaharsa. Hanya saja Jibran tidak punya cukup nyali untuk mengaku, jadi segala rasa itu Jibran pendam hingga bertahun-tahun lamanya.

Jibran di masa kini yang bertransformasi menjadi idaman banyak kaum Hawa dengan akting memukau, tersenyum mengingat masa lalunya yang manis meski hanya sesaat. Sekarang Jibran kembali dipertemukan dengan Eila di saat perasaannya sudah berakhir. Well, awalnya Jibran berpikir demikian, tapi sekarang dia sadar perasaan itu kembali bangkit dari kuburnya karena Eila makin mudah diraih olehnya.

Belum dipastikan apakah ini cinta atau sekadar kagum seperti di awal pertemuan, tapi Jibran berharap perasaannya mampu ia redam untuk sekarang, karena takut cintanya bertepuk sebelah tangan.

Jibran menggeleng pelan, menarik diri kembali ke realitas setelah puas melamunkan Eila di masa lalu dan masa kini. Jibran menghabiskan pancake dan jusnya, lalu kembali membaca naskah dan melatih dialog Jeremy yang lagi-lagi membuatnya merinding geli.

Baru lima menit fokus, suara pertanda pesan masuk memecah konsentrasinya. Jibran raih ponsel yang ada di atas meja makan, lalu tersenyum melihat pesan dari orang yang baru saja ia pikirkan. Kalau satu pesan saja sudah membuat Jibran sebaper ini, tidak heran bila ke depannya perasaan yang dia miliki pada Eila tak bisa dielakkan lagi.

“Eila, kamu lumayan. Jibran, ini jelas bukan kamu banget.”

Komentar Trian setelah 10 kali take untuk scene perkenalan membuat Jibran mendesah kesal. Tentunya bukan karena Eila yang dipuji, bukan pula karena dia yang diberi komentar buruk, melainkan kesal pada diri sendiri yang tidak bisa totalitas dengan aktingnya. Padahal scene pertama sudah sukses, tinggal diasah agar lebih natural saat di depan kamera nanti. Sayangnya di scene kedua, di mana dalam naskah Jibran dan perempuan yang membuatnya tertarik berkenalan secara tidak sengaja, harus gagal ia lakukan tanpa ada perkembangan yang berarti.

Selama berkarier, untuk pertama kalinya Jibran merasa dirinya sangat payah. Rupanya sesulit ini memainkan karakter pria romantis yang harus terlihat manis setiap saat tanpa berusaha terlalu keras untuk menunjukkan karakter seperti itu. Namun, Jibran tidak bisa menyerah. Selain kontrak sudah di tangan, Jibran juga ingin segera bebas dari Punch Entertainment.

Jibran, Trian, Eila, dan Natta berada di practice room di rumah Jibran. Ruangannya luas, dengan dinding polos dan cahaya yang terang, ada sofa dan meja tempat untuk mengafal dialog, serta cermin besar di sisi kiri yang biasa Jibran gunakan untuk berlatih mimik. Tempatnya cocok untuk latihan sekarang, tapi setelah 2 jam berlalu, belum ada hasil yang jelas.

“Sebenernya karakter Jeremy ini mendekati Kak Jibran banget nggak, sih?” sahut Natta yang menunggu sesi latihan berikutnya. Ketika semua orang menaruh atensi pada Natta, dia melanjutkan, “Orangnya cuma ngomong hal yang dirasa penting, tenang, bukan orang yang ngeluh, apalagi tukang marah. Bedanya Jeremy ini punya mata dan senyum yang nunjukin kalau dia tertarik sama si pemeran utama, yang mana nggak dia kasih ke orang lain.”

Jibran manggut-manggut, dia setuju dengan penjelasan Natta. “Walaupun sama, aku harus keluar dari sosok yang sekarang supaya karakter Jeremy bisa masuk ke aku.” Jibran mengembuskan napas berat. “Itu susahnya.”

Trian menepuk bahu sang aktor yang ikut merasakan kesulitannya. “Aku yakin kamu bisa, Jibran. Kamu cuma belum terbiasa sama karakter yang manis kayak gini.”

Eila seketika membulatkan matanya mendengar kata ‘terbiasa’ yang memberinya ide. Eila sampai menepuk tangannya semangat, hingga tiga laki-laki di dekatnya terkejut, bahkan Trian sampai mengelus dada karena tidak bisa mendengar suara nyaring secara tiba-tiba akibat ulah Eila. Saking semangatnya, Eila sampai memukul lengan Jibran berkali-kali dan memeluk Natta yang juga di sampingnya.

“Kak, usahanya lagi sukses atau gimana, sih?” Natta susah payah bertanya karena dadanya sesak ketika dipeluk erat oleh Eila.

Sang puan mengurai pelukannya, lalu memandang Jibran dengan semangat membara karena merasa idenya kali ini sangat cemerlang. Jibran malah menaikkan sebelah alisnya, bingung kenapa Eila sesemangat ini. Pun menahan ekspresi karena Eila terlalu gemas dipandang begini.

“Bener kata Kak Trian kalau kamu belum terbiasa sama karakter Jeremy. Makanya aku punya ide bagus supaya kamu terbiasa dulu dengan karakter Jeremy. Caranya bukan dengan akting seakan-akan kamu Jeremy, tapi kamu harus hidup kayak dia, lakuin kebiasaan Jeremy, supaya kamu dapat feel sosok Jeremy ini,” jelas Eila dengan napas tersengal-sengal karena tadi terlalu semangat.

Trian yang paham maksud Eila langsung setuju dan ikut antusias. “Caranya gimana?”

“Seingat aku karakter Jeremy dijelasin punya kebiasaan siapin sarapan sendiri. Kamu gitu nggak?”

“Boro-boro. Aku yang nyiapin,” timpal Trian cepat yang membuat Jibran langsung melotot padanya sebagai sanksi.

“Iya, Trian yang nyiapin.” Jibran mau tidak mau harus mengakui hal memalukan itu di depan Eila.

“Mulai besok kamu harus nyiapin sarapan sendiri,” titah Eila tegas. “Lakuin hal kecil dulu dengan nyiapin sarapan, baru nanti hal yang lebih besar. Setelah terbiasa nyiapin sarapan sendiri kayak Jeremy, kamu nyiapin sarapan buat aku.”

“Hah?” Natta tiba-tiba menjadi tukang keong.

“Ada satu scene di mana tokoh perempuan nginep di rumah Jeremy, terus Jeremy nyiapin sarapan dengan manis. Di situ Jeremy ngaku dia suka. Jadi, nanti aku bakalan nginep di rumah Jibran seakan-akan aku—”

“Aku nggak setuju,” sambar Trian sembari berdiri di antara Eila dan Jibran untuk memberi jarak antara dua orang yang tidak memiliki ikatan itu. “Kalian dilarang berduaan.”

“Enggak berduaan, Kak. Nanti aku nginepnya sama Natta. Lagian nginep ini udah jadi persetujuan dari awal.”

“Tetap aja … aku nggak bisa ngasih izin,” cicit Trian yang tidak mampu membayangkan Eila berada satu atap dengan Jibran. Mau itu ada Natta, gagasan itu tetap tidak baik. “Ganti yang lain.”

“Enggak bisa. Ini strategi yang bagus. Jibran harus jadi Jeremy di kehidupan sehari-hari supaya terbiasa. Ini dilakuin maksimal 2 bulan. Setelah Jibran terbiasa sebagai Jeremy, kita baru latihan beberapa scene penting yang ada di naskah. Kamu nggak keberatan ‘kan, Jibran?”

Selagi Eila dan Trian debat, Jibran membuat pertimbangan atas strategi baru yang Eila buat demi mengasah aktingnya. Tanpa melihat Eila yang jadi mudah memengaruhi Jibran dengan perintahnya, harus diakui strategi itu sangat bagus dan tepat untuknya.

Selama latihan, Jibran hanya menyesuaikan dengan naskah tanpa improvisasi apa-apa. Jibran juga belum mengenal sepenuhnya karakter Jeremy yang terasa dekat, tapi nyatanya jauh dari sosoknya yang harus memerankan tokoh tersebut. Jadi benar kata Eila bahwa Jibran harus mau menggunakan strateginya, yaitu membiasakan diri sebagai Jeremy. Di saat semua mata tertuju padanya, Jibran menatap Eila dalam setelah membuat keputusan. Jibran tersenyum, hanya untuk Eila yang menantikan jawabannya.

“Aku setuju, Eila.”


Jangan lupa komentarnya ^^

Bonus

“Cut!” seru Eila yang tidak puas dengan akting Jibran.

Rambut pirangnya terikat asal, sedikit tidak sabar karena Jibran terus gagal pada akting sesuai naskah di tangannya. Eila yang tadinya berdiri di samping Natta, berjalan mendekati Jibran yang mendesah kesal karena aktingnya tidak memuaskan. Bukan hanya tidak memuaskan Eila, tapi juga dirinya.

“Apa kamu pernah naksir perempuan?” tanya Eila setelah berdiri di hadapan Jibran. “Ini baru scene pertama sesuai naskah, yang mana kamu cuma lihat perempuan cantik dan bikin kamu tertarik. Di film kali ini, kamu jadi laki-laki romantis. Jadi, saat lihat perempuan pun, tatapan mata kamu harus manis. Paham?”

Jibran mengangguk dengan lisan yang terkunci rapat. Jelas dia paham harus seperti apa, tapi sayangnya dia tidak tahu harus bagaimana menjadi laki-laki yang manis.

“Aku bakal ulang lagi.”

“Sebentar. Kamu punya printer?”

Jibran mengernyit bingung dengan pertanyaan tersebut. “Ada.”

“Aku boleh pinjam?”

“Buat apa?”

“Something,” kata Eila sok misterius. “Siapa aktris favorit kamu? Boleh lokal atau non-lokal.”

Jibran berpikir sejenak, lalu menjawab dengan tidak yakin, “Jennifer Lawrence.”

Eila manggut-manggut. “Oke. Bisa tolong tunjukin di mana printernya?”

“Biar aku antar aja.” Trian mengambil alih. “Jibran, kamu istirahat dulu. Natta, tolong temanin.”

Trian membawa Eila menjauh, sedangkan Natta yang sejak tadi tidak memiliki kesempatan untuk mengobrol mendekati Jibran yang duduk di sofa ruang tamu. Natta duduk di hadapannya dengan hati-hati, tiba-tiba gugup melihat idolanya yang sedikit pusing dengan latihan pertama karena tidak semudah yang ia kira.

“Misi, Kak Jibran?” panggil Natta pelan. “Kita belum kenalan.”

“Oh, iya.” Jibran menegakkan posisi duduknya agar lebih nyaman. “Kamu pasti Natta. Trian udah bilang kok kamu bakal ikut setiap latihan.”

“Oh, nggak cuma Natta,” sosor Natta percaya diri. “Saya juga penggemar berat Kak Jibran. Saya nonton semua filmnya, bahkan beli DVD original. Pokoknya saya kagum banget sama akting Kak Jibran, apalagi pas lagi megang pistol itu keren banget.” Natta menepuk tangannya penuh rasa kagum, membuat Jibran tersenyum malu mendapatkan pujian langsung dari satu orang di hadapannya.

“Makasih, ya.”

“Terus jangan diambil hati kalau Kak Eila agak sok ngatur, ya. Kak Eila orangnya emang gitu, ngerasa paling bener dan sok perfeksionis. Kalau Kak Jibran butuh apa-apa, tinggal telepon—bentar,” Natta mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, lalu memberikannya pada Jibran tanpa rasa canggung, “hubungin aku aja kalau butuh bantuan di nomor itu. Dijamin, aku bakal bantu sepenuh hati sebagai penggemar.”

Jibran menatap selembar kertas kecil berisikan nomor telepon, lalu tersenyum lebar. “Makasih, Natta.”

Sekitar 10 menit, latihan dimulai setelah Eila mencetak sesuatu yang belum Jibran ketahui. Kala Jibran berdiri di posisi yang sama seperti latihan sebelumnya, Eila meminta Trian untuk berdiri sepuluh langkah dari Jibran dan menyembunyikan wajahnya dengan foto Jennifer Lawrence yang dicetak seukuran kertas A4. Jibran dan Natta kebingungan, sedangkan Trian yang sudah tahu maksudnya memilih ikut saja dengan segala instruksi Eila.

“Itu … kenapa pake foto Jennifer Lawrence?” tanya Jibran bingung.

“Coba akting seakan-akan ada Jennifer Lawrence yang kamu kagumi di sana.” Eila mulai memberi instruksi sebagai jawaban atas pertanyaan Jibran. Ia juga mendekati Jibran dan menyentuh bahu pria itu agar tidak tegang. “Kalau ada idola kamu, pasti feel-nya lebih dapat. Cuekin aja badan Trian dan fokus sama muka Jennifer Lawrence. Bisa, ‘kan?”

Jibran tidak menjawab, malah makin tegang ketika bahunya disentuh pelan oleh Eila. Hanya sentuhan ringan, tapi bekasnya tidak hilang dalam hitungan detik. Jibran keraskan rahangnya, menahan mati-matian ekspresi terkejut yang nyaris tidak bisa dia kendalikan. Jibran sampai tidak fokus pada instruksi Eila karena sentuhan itu masih membekas meski tangan Eila telah lepas.

“Aku anggap diamnya kamu itu bisa. Good luck.

Kali ini Eila menepuk pundak Jibran dan berlalu begitu saja, membuat sang aktor hampir hilang akal karena sesuatu yang tidak dia duga. Jibran lihat Eila berdiri di samping Trian, memberikan instruksi pula pada sang kakak dan adik yang tidak terlalu diperhatikan. Ini baru latihan pertama, Jibran juga masih akting sendirian sesuai dengan adegan pertama pada naskah, tapi hatinya sudah tidak keruan.

Kalau seterusnya begini, Jibran tidak yakin dia mampu menyelesaikan sesi latihan sampai project filmnya dimulai. Karena tanpa ada yang tahu, perasaan yang pernah Jibran Dava Adelard miliki pada Ardania Eila Mahadarsa, kembali muncul hanya dalam satu kali temu.

Latihan pertama di rumah Jibran tidak langsung dilaksanakan karena Eila tengah memeriksa lembaran yang perlu diisi oleh sang aktor. Sejak dari rumahnya, Eila sudah berekspektasi kalau Jibran akan mengisi dengan sepenuh hati agar latihan pertama bisa dimulai dengan sesuatu yang pernah dialami oleh sang aktor.

Sayang, ekspektasi Eila harus runtuh karena Jibran tidak mengisi sesuai harapan. Pada pertanyaan pertama, Jibran hanya menjawab tipe perempuan yang dia suka adalah berambut hitam. Pertanyaan kedua, Jibran menjawab secara singkat yaitu tidak tahu ke mana akan mengajak pacarnya kencan. Pada pertanyaan ketiga, Jibran mengaku tidak pernah memiliki mantan. Sedangkan pertanyaan terakhir ….

“Kenapa kamu nggak isi pertanyaan terakhir?” tanya Eila tajam sembari menunjukkan pertanyaan terakhir pada Jibran yang duduk di hadapannya.

Jibran diapit oleh Trian dan Natta yang duduk di samping kanan dan kirinya.

“Pertanyaan terakhir ini penting,” tegas Eila seraya meletakkan selebaran di meja.

Natta menatap kakaknya ngeri karena belum apa-apa Eila jadi menakutkan dan sok berkuasa. Natta yang ikut ke rumah Jibran sampai lupa ingin mengenalkan diri sebagai penggemar, dia juga tidak sempat melihat-lihat kediaman mewah Jibran yang dihuni sendirian. Lain halnya dengan Trian yang rahangnya mengeras, antara kesal dan panik karena Eila bertindak di luar dugaan. Trian khawatir Jibran jadi tidak nyaman saat latihan dimulai, ekstremnya membatalkan latihan bersama Eila, lalu persiapannya untuk film terbaru pun harus gagal.

“Emang pertanyaan di kertas itu penting?” Jibran malah balik bertanya sebagai balasan, membuat atmosfer di rumahnya tak secerah mentari yang bersinar terik di luar.

“Penting,” jawab Eila sembari menyandarkan posisi duduknya. “Kamu minta bantuan aku sebagai partner latihan, jadi aku harus tahu kamu itu kayak gimana. Tapi karena aku nggak tahu banyak hal dan beberapa pertanyaan nggak berhasil dijawab, aku jadi berasumsi kalau kamu nggak punya pengalaman cinta sepanjang hidup kamu.”

Jibran menelan ludahnya susah payah, menahan lisannya untuk tidak membenarkan asumsi tersebut. Trian yang sudah tahu lebih dulu tahu mati-matian menahan tawa. Pun sadar kalau Jibran tidak mungkin mengakui begitu saja, terlebih pada Eila yang tergolong orang baru dalam hidupnya. Eila yakin dengan asumsinya, tapi dia tetap tidak percaya apabila asumsinya dibenarkan oleh Jibran.

Pasalnya dengan paras Jibran yang setampan itu, seharusnya mudah bagi dia menggaet perempuan untuk dijadikan pacar. Terlebih di industri hiburan, para selebritas jarang ada yang sepenuhnya lajang. Kalau tidak memiliki pasangan sungguhan, minimal pacar setting-an, gebetan, atau backstreet.

“Iya, aku emang nggak punya pengalaman apa-apa soal sesuatu yang berbau romantis.”

Eila menganga kecil ketika Jibran akhirnya mengaku. Natta menutup mulutnya dengan telapak tangan, sok dramatis. Sedangkan Trian terus menahan tawa agar tidak terbahak dan dituduh meledek aktor yang diurusnya. Eila mencoba mengendalikan ekspresi, lalu berdiri dan mondar-mandir di hadapan ketiga orang yang menatapnya bingung. Ada kiranya 30 detik Eila mondar-mandir tidak menentu, ia akhirnya berhenti dan menatap Natta, Jibran, serta Trian bergantian.

“Jibran, kamu bilang di chat kalau aku bisa dibilang guru akting juga, ‘kan?”

Jibran mengangguk. “Iya.”

“Kalau gitu aku nggak akan jadi partner biasa, tapi harus kerja ekstra.” Eila berkacak pinggang dan semangatnya tiba-tiba membara. “Natta, kamu jadi asisten aku. Kamu yang urus persiapan latihan kalau butuh. Kalau bisa tolong rekam juga setiap aku sama Jibran latihan, supaya aku tahu perkembangannya. Kak Trian, karena kamu udah kerja sama Jibran dari lama dan pasti hapal gimana aktingnya, aku mau kamu jadi penilai. Yah, bisa jadi sutradara juga yang ngatur saat latihan. Kamu paham, ‘kan? Oh, satu lagi,” Eila mengangkat jari telunjuknya, “aku yakin butuh suasana baru saat latihan, jadi kemungkinan latihan selain di rumah. Bukan tempat terbuka, tapi pokoknya—”

“Itu nggak mungkin,” putus Trian sebelum Eila menyelesaikan kalimatnya. “Kamu sama Jibran nggak boleh kelihatan bareng di luar, Eila. Jibran nggak boleh terlibat skandal apa pun selama terikat sama film.”

“Aku nggak minta di ruang terbuka, Kak. Aku minta di area yang beda sama di rumah, yang bisa kamu atur lokasinya supaya nggak ketahuan orang-orang. Kamu manajernya, ‘kan? Aku yakin kamu bisa lakuin itu.”

Trian berdecak, “Aku jadi kayak babu.”

Jibran menggigit bibirnya, kali ini dia yang menahan tawa mendengar keluhan Trian, ditambah tidak berani melawan Eila ketika menunjukkan ‘kuasanya’. Bila berpikir rencana dadakan yang Eila ciptakan membuat Jibran risi seakan dia aktor amatir, maka itu salah. Justru Jibran menyukai cara Eila mempersiapkan latihan dengan baik meski dadakan, yang artinya pilihan Jibran tidak salah untuk meminta bantuan Eila. Wanita itu bisa diandalkan, layaknya profesional padahal bukan.

“Kamu sendiri gimana?” Kali ini Eila menaruh atensinya pada Jibran. “Kamu keberatan dengan cara aku?”

Jibran yang sedikit melamun kembali ditarik ke realitas berkat pertanyaan itu. Ia menggeleng pelan dan menjawab, “Aku nggak keberatan sama sekali.”

Jibran kira dengan segala persiapan yang telah ia lakukan demi peran perdananya sebagai pria romantis, bisa ia perankan dengan baik seperti latihan selama beberapa bulan ini. Nyatanya Jibran tidak sanggup melakukannya. Nyaris tidak sanggup, lebih tepatnya, karena yang berakting bersamanya saat ini berbeda dengan yang sering bersamanya selama beberapa bulan terakhir.

Namun, Jibran tetap harus profesional memainkan peran hingga selesai. Terlebih kala ia mendengar segala pujian yang dilayangkan untuknya, padahal Jibran tidak puas dengan aktingnya.

Jibran tak puas bukan karena ini peran perdananya sebagai pria romantis, bukan pula karena ini film dengan genre berbeda dari yang biasa ia lakonkan, melainkan karena di hati Jibran sudah terpahat satu nama yang ingin ia jadikan pemeran utama.

Bukan demi akting untuk kisah fiksi semata, tapi demi berada di sisinya, menjadi pendamping di kehidupan nyatanya.


hanyaabualan

18 September 2021

Wanita berambut pirang bernamakan Ardania Eila Mahadarsa itu memainkan ponselnya tidak menentu, tidak antusias seperti biasa karena tidak ada yang menarik di media sosial hari ini. Eila bukan pecinta gosip, tapi dia senang saat ada kabar terbaru dari selebritas atau tokoh-tokoh penting agar timeline tidak terlalu sepi. Sayangnya hari ini timeline tergolong flat, sampai Eila mendesah bosan berkali-kali dengan netra yang terus tertuju pada ponsel.

Trian memandang adiknya kebosanan dan membuat sang kakak menatap jam tangannya setiap jeda satu menit karena rekannya tidak kunjung datang. Saat ini mereka sedang berada di private coffee shop, di mana pengunjung bisa menikmati waktu mereka secara privasi di beberapa ruangan khusus yang disewa dengan harga sesuai luasnya.

Trian tidak ingin Jibran bertemu adiknya di ruang terbuka, jadi tempat mereka berada sekarang adalah lokasi yang pas.

“Lama banget,” decak Eila tidak sabar sembari meletakkan ponselnya di atas meja. “Aktor emang suka ngaret, ya?”

“Kita janji ketemunya jam 2, La. Ini aslinya terlalu cepat, jadi kamu harus sabar.”

“Harusnya kamu bilang sama dia buat datang cepat-cepat. Kalau gini aku yang capek nungguin dia. Padahal dia yang butuh,” keluh wanita itu dengan mata melotot.

“Sabar. Jibran bukan orang ngaret dan sekarang lagi on the way, kok. Pas dia udah nyampe, aku yakin kamu bosannya hilang.”

Eila manggut-manggut saja, tidak tertarik merespons lebih. Eila tahu siapa Jibran, reputasinya sebagai aktor laga yang memiliki paras rupawan dengan akting ciamik bukan bualan belaka. Sayangnya Eila jarang menonton film laga karena membuat kepalanya pusing, jadi dia tidak tahu sepiawai apa Jibran dalam berakting.

Lima menit sejak obrolan terakhir dengan Trian, akhirnya yang dinanti tiba dan membuat sang manajer mendesah lega. Trian berdiri, yang membuat Eila otomatis ikut berdiri untuk menyambut kedatangan sang aktor utama. Jibran mengenakan hoodie abu-abu dan kacamata berbingkai hitam sebagai penyamaran. Namun, penyamaran itu terasa percuma karena sebagai selebritas, terlebih dengan wajah seunik Jibran yang mudah dikenal, orang pasti akan sadar siapa dia.

Well, setidaknya itu yang Eila pikirkan ketika melihat Jibran sekarang. Ketika Jibran membuka penutup kepala dan melepas kacamatanya saat menyapa Trian, Eila tanpa sadar menahan napasnya dan jantungnya berdebar cepat. Oh, bukan. Ini bukan karena jatuh cinta pada pandangan pertama, melainkan karena terpana melihat kesempurnaan yang ditampilkan Jibran secara langsung.

Eila bisa mengabaikan kabar soal Jibran di media sosial atau televisi, tapi tidak bisa mengelak pesona pria yang netranya kini menatap tepat pada Eila. Auranya terlalu kuat, sampai-sampai Eila nyaris tidak bisa mengendalikan diri. Sebagai perempuan normal, melihat laki-laki setampan Jibran dalam jarak begitu dekat menjadi momen mendebarkan.

“Nah, Jibran. Ini adik aku. Eila, ini nggak usah dikenalinlah, ya. Pasti udah tahu siapa.”

Trian sebagai penengah bersuara, menyadarkan Eila kembali ke realitas dan berusaha sesantai mungkin saat Jibran sudah tepat di hadapannya.

Jika tadi Eila yang mengamati Jibran, maka kini Jibran mengamati perempuan setinggi pundaknya penuh penilaian. Ardania Eila Mahadarsa yang Jibran ingat dulu adalah gadis periang dengan suara nyaring, yang berhasil menjadi pemeran utama di teater perpisahan sekolah.

Sekarang Eila menjadi wanita cantik yang sempat membuat Jibran pangling karena nyaris tidak mengenalnya kala dilihat secara langsung. Keceriaan yang Eila miliki tidak luntur, karena buktinya dia lebih dulu mengulurkan tangan seraya tersenyum yang masih Jibran ingat setelah bertahun-tahun tidak bersua.

“Hai, aku Eila. Aku nggak pernah nonton film-film kamu, tapi aku tahu siapa kamu,” ungkap Eila jujur, tidak ingin pura-pura jadi penggemar yang pada kenyataannya sangat minim pengetahuan soal Jibran.

Sang aktor tersenyum mendengar pengakuan yang tidak ia duga. Di balik senyum itu, Jibran harus terima karena Eila tidak mengenalinya sebagai kawan di masa lalu.

“Aku Jibran,” balas Jibran seraya menjabat tangan Eila. “Makasih udah mau ketemu aku.” Lagi ….

Perayaan tahun baru diadakan di rooftop gedung Punch Entertainment. Selain oleh karyawan PE, acara tahun baru dihadiri oleh kalangan selebritas PE dan di luar PE, para sineas yang pernah bekerja sama dengan PE, produser film, tentunya dengan awak media yang ikut meliput kemeriahan acara tahun baru ini.

Acara tahunan yang rutin diadakan juga dimeriahkan oleh para penyanyi Tanah Air yang menyumbangkan suara mereka, makin menambah kemeriahan sembari menunggu pergantian tahun dengan suara nyanyian bersama di setiap sisi rooftop.

Jibran yang ikut hadir dan tidak pernah melewatkan acara ini sesekali bernyanyi dengan lirik seadanya di kepala, bersama sebelah tangan yang sibuk membawa segelas sampanye, sedangkan sebelah tangan lain bergerak mengikuti alunan musik. Di sampingnya ada Ardani Trian Madaharsa, manajer Jibran yang lebih akrab disapa Trian ini mengangkat gelas sodanya tinggi-tinggi sambil ikut bernyanyi ketika Tulus berada di atas panggung.

Jangan heran ketika Trian terlihat paling antusias dengan pesta tahun baru ini. Pasalnya Tulus adalah penyanyi idolanya, jadi sudah jelas Trian heboh saat idolanya bernyanyi, kontras sekali dengan Jibran yang masih stay calm di tempat.

“Aku minta tanda tangan pasti dikasih dong, ya,” ucap Trian dengan suara lantang, sengaja agar Jibran mendengar jelas di kala musik berkumandang cukup keras. “Untung tahun ini Mister Timon ngundang Tulus. Aku jadi semangat karena ada dia. Biasanya ‘kan sedikit ogah.”

“Waktu itu ada Isyana juga semangat.”

“Beda, dong. Sekarang ‘kan dia udah nikah. Aku semangatnya harus ditahan dikit biar nggak lupa dia udah bersuami.”

Jibran hanya terkekeh pelan yang jadi angin lalu bagi Trian karena tak mendengar jelas. Trian menghabiskan satu gelas soda setelah Tulus selesai menyanyikan dua lagu secara berturut-turut. Sebenarnya dia butuh yang lebih keras dibandingkan soda, seperti yang ada di tangan Jibran sekarang.

Sayangnya Trian harus menahan diri karena khawatir Jibran terlalu banyak minum dan mabuk. Kalau sudah begitu, Trian otomatis jadi supir dadakan yang tidak mungkin membiarkan aktornya pulang sendiri, ditambah lagi dia tidak memercayakan orang lain mengantar Jibran.

“Soal nggak memperpanjang kontrak, kamu nggak mau berubah pikiran?”

Suara Trian lebih tenang karena sekarang orang-orang sibuk menikmati kudapan yang disajikan. Tidak ada lagi penyanyi di panggung, jadi tak perlu usaha keras agar ucapannya terdengar.

“Apa aku pernah mundur saat udah mutusin sesuatu?”

Trian mengedikkan bahunya. Sepanjang mengurus Jibran, rekannya tidak pernah mengubah keputusan setelah membuatnya, termasuk dalam menerima film dan peran yang akan ia lakonkan. Apa pun risikonya, Jibran sudah siap menghadapinya. Maka ketika Jibran memutuskan untuk tidak melanjutkan kontrak, dia telah membuat beberapa prediksi terkait karier dan kehidupan pribadinya tanpa ada PE serta nama besar yang menjadi pilarnya.

Sembari memainkan gelas sampanye di tangan, Jibran berkata, “Jadi aktor laga emang impian aku dan pengalaman hampir delapan udah cukup. Aku nggak perlu pengalaman lagi karena udah dapat suka dukanya lumayan lama.”

Trian manggut-manggut dan tertawa pelan. “Dukanya dapat luka dan sempat cedera, ya.”

Well, itu juga alasan aku mau berhenti,” balas Jibran sembari mengelus bicepsnya, tepat di mana bekas lukanya berada.

“I see.” Trian mengangguk paham, lalu mengembuskan napas berat. “Kalau kamu nggak perpanjang kontrak, aku belum tentu dapat aktor atau aktris yang diurusnya nggak susah. Sekarang aktor baru di PE pada songong sama staf. Aku nggak mau deh kalau jadi manajer mereka. Bukan bermaksud senioritas, tapi kalau nggak ngehargain staf yang capek-capek ngurus malah ngeselin.”

Jujur, Jibran tidak terlalu mengenal para pendatang baru di PE. Hanya mendengar kabar burung soal mereka setiap ke kantor PE dan yang diberitakan kurang lebih sama seperti yang dikatakan Trian. Well, apa pun itu, Jibran tak ingin ambil pusing soal orang lain meski masih satu bagian di agensinya. Selama orang itu tidak memengaruhi kariernya sampai kontrak selesai, Jibran memilih abai dan fokus dengan tujuan awalnya; tidak memperbaharui kontrak bersama PE.

Di saat Trian sedang mengambil kudapan, Jibran dihampiri seorang presenter dari acara infotainment di TV swasta, mengambil kesempatan untuk mewawancarainya.

“Jadi, film apa yang jadi project kamu dalam waktu dekat ini? Mengingat selama lima tahun terakhir kamu selalu punya dua project setiap tahunnya, pasti tahun ini pun sama.”

Presenter bernama Martha yang mengenakan gaun berwarna marun itu menjulurkan mic pada Jibran untuk menjawab pertanyaannya. Martha didapuk menjadi wakil dari programnya untuk meliput acara tahun baru. Wajahnya sangat familier karena setiap ada acara seperti ini, pasti Martha akan muncul. Beberapa kali juga meliput film Jibran saat sedang premier film, jadi kehadirannya sudah seperti kewajiban yang haram untuk dilewatkan.

“Untuk saat ini saya nggak bisa jawab.” Suara tegas Jibran di dekat mic membuat Martha manggut-manggut penuh rasa ingin tahu.

“Tapi boleh kasih sedikit bocoran film seperti apa yang bakal jadi project selanjutnya?”

No, no. Enggak boleh ada bocoran sedikit pun. Itu masih jadi rahasia perusahaan.” Timon tiba-tiba muncul dan mencuri atensi Martha beserta kamera yang merekam. Timon merangkul akrab Jibran, sedangkan sebelah tangannya memegang segelas mocktail. “Tapi yang pasti film Jibran selanjutnya nggak kalah menarik dari yang sekarang. Iya, ‘kan, Jibran?”

Timon menatap Jibran penuh arti yang tentu langsung ditangkap apa maksudnya. Jibran menyeringai kecil kala menyadari bahwa Timon secara tidak langsung tengah memintanya untuk tetap bersama Punch Entertainment di hadapan banyak orang. Kegigihan Timon untuk mempertahankan Jibran tetap dilaksankan di keramaian, tapi tidak menarik keinginan Jibran karena tetap pada pendiriannya.

“Selama ini Jibran selalu main film laga. Apa nggak mau coba genre film lain?” tanya Martha yang kali ini ditujukan pada Timon.

Well, itu sedang diusahakan, makanya saya nggak bisa ngomong banyak hal supaya jadi kejutan ke depannya.”

Martha berbinar antusias, makin penasaran, tapi tidak bisa banyak bertanya karena yakin Timon tidak akan memberikan jawaban sesuai harapan. Lantas atensi segera ia berikan kembali pada sang aktor utama yang tak nyaman, karena ia tahu Timon berusaha menekan Jibran agar tidak bicara aneh-aneh, khususnya terkait rencana kontrak yang masih perlu dinegosiasikan.

Jibran ingin kabur, tapi dia terpaksa memaku di tempat demi mengurangi gosip miring setelah acara selesai. Jibran tidak mau ada gosip aneh, mau itu gosip kecil atau besar.

“Kalau dari Jibran sendiri, apa bisa kasih bocoran terkait film berikutnya? Sedikit aja,” pinta Martha penuh harap karena dia ingin menyajikan berita eksklusif di programnya.

Jibran bisa merasakan rangkulan Timon yang mengetat, menandakan sebuah desakan agar Jibran tak bicara aneh-aneh selama kontrak dengan PE masih berjalan. Namun, kali ini Jibran tidak ingin jadi boneka yang bisa diatur. Sekali-kali ia ingin membangkang, termasuk di depan publik dengan kamera yang menyorotnya lurus. Toh, Jibran akan bebas setelah kontraknya habis. Jadi, biarkan Jibran menjadi dirinya sendiri sampai waktunya dengan Punch Entertainment benar-benar berakhir.

Di penghujung tahun saat euforia pergantian masa tengah dinantikan, Jibran menjawab dengan lantang tanpa peduli desakan dari sang atasan, “Saya nggak akan lanjutin kontrak bareng PE. Jadi, kemungkinan untuk nerima film baru lagi sangat kecil.”

“Kamu yakin nggak mau perpanjang kontrak? Karier kamu masih sangat bagus, Jibran. Usia kamu juga masih produktif dan punya banyak potensi di dunia hiburan. Masih bisa banget diasah. Banyak production house yang nunggu kamu buat gabung sama film mereka, tanpa audisi juga. Kamu juga udah dapat naskahnya. Minimal bertahan lima tahun lagi aja, karena nama kamu nggak akan hilang gitu aja walaupun berhenti.”

Timon, pendiri sekaligus CEO dari Punch Entertainment, tidak berhenti bertanya untuk meyakinkan Jibran yang katanya menolak untuk memperpanjang kontrak. Jibran, aktor laga terbaik di PE yang sudah berkarier hampir 8 tahun, jelas tidak bisa Timon lepas begitu saja keberadaannya. Bagi Timon, Jibran bak emas yang filmnya selalu sukses dan menguntungkan PE sebagai tempat bernaung sang aktor.

Melepaskan Jibran di tahun-tahun kariernya yang sedang melambung tinggi bukan pilihan baik, terlebih saat PE menerima banyak tawaran untuk aktor kesayangan mereka dan berharap bisa menerima semua project-nya. Timon menyandarkan posisi duduknya, menatap serius Jibran yang terlihat tidak tertarik menjadi incaran production house. Timon kembali duduk tegak dan menyilangkan kedua lengan di atas meja.

“Kamu bakal jadi salah satu aktor dengan bayaran tertinggi. Karier melejit kamu nggak bikin produser minder buat milih kamu sebagai aktor.”

Jibran yang selama setengah jam duduk setelah mengaku menolak memperpanjang kontrak, untuk pertama kalinya tersenyum menatap pria berusia hampir kepala enam di hadapannya. Bukan senyum puas karena akan menjadi aktor dengan bayaran tertinggi, seolah-olah uang adalah alasan semata agar dia bisa dipertahankan di PE.

Pasalnya keputusan Jibran untuk tidak memperpanjang kontrak sudah bulat dan tidak akan berhasil dipengaruhi oleh apa pun, termasuk uang.

“Dibujuk kayak apa pun, saya nggak bisa perpanjang kontrak, Mister Timon. Saya nggak masalah karier harus berhenti di usia yang menurut Anda masih punya potensi. Saya udah ngerasa cukup jadi aktor selama hampir delapan tahun. Jadi, saya harap Anda mau menerima keputusan saya untuk nggak memperpanjang kontrak.”

“Apa ada agensi lain yang nawarin kamu buat bergabung?”

Jibran menggeleng. “Enggak ada.”

“Jadi, kamu berhenti berkarier atau cuma putus kontrak?”

“Saya masih terikat sama beberapa brand sebagai ambassador, jadi saya fokus sama itu. Sedangkan untuk film, saya nggak keberatan untuk berhenti.”

“Apa rencana setelah kontrak kamu sama beberapa brand itu selesai?”

Jibran menggeleng dengan enteng dan menjawab, “Enggak ada.”

Timon menaikkan sebelah alisnya, sedikit mencondongkan tubuhnya untuk berusaha mengubah pikiran Jibran yang masih bersikeras tidak mau memperpanjang kontrak.

“Kalau kamu berhenti sepenuhnya setelah keluar dari sini, belum tentu bisa balik lagi ke dunia hiburan, Jibran.”

Timon bicara seraya mengetukkan jari telunjuknya di atas meja, ingin menegaskan setiap kata yang mengudara di ruangannya.

“Apalagi kamu juga nggak ada rencana setelah keluar dari sini. Pasti jauh lebih sulit buat bertahan dan kamu tahu sendiri jadi selebritas itu uang datang saat masih berkarier.”

Jibran manggut-manggut, dia sangat tahu itu. Selama kariernya masih baik dan meningkat, namanya tidak akan redup dalam waktu singkat. Meski nantinya Jibran terkena skandal, jika berkat skandal itu orang akan berlomba-lomba untuk menyorotnya, kariernya justru makin gemilang.

Well, bukankah begitu cara kerja industri hiburan di Tanah Air ini? Makin sensasional selebritas tersebut, makin besar pula namanya. Namun, Jibran tak ingin seperti itu. Karena ia tahu jika terlalu lama berada di dunia hiburan, makin terlena dengan ingar bingar dan keuntungan semata, maka makin sulit baginya untuk merangkak keluar.

“Saya bilang nggak ada rencana, bukan berarti sepenuhnya tanpa rencana, Mister Timon,” ucap Jibran yang masih tenang. Sang pemilik lesung pipi itu melanjutkan, “Anda cuma nggak perlu tahu banyak hal karena itu urusan saya setelah lepas dari PE.”

Timon mengetatkan rahangnya, tertantang oleh Jibran yang berani meremehkannya. Selama ini Jibran adalah aktor penurut yang tidak masalah diatur oleh agensi, selama itu tidak bertentangan dengan kontrak yang ada. Lantas kini, di saat kontraknya akan berakhir dalam hitungan bulan, Jibran berani sedikit membangkang pada Timon yang biasanya sangat ia hormati, seakan tidak takut dengan risiko mendatang jika menantang atasannya. Namun, Timon tak mau naik pitam karena masih ada lain hari untuk membujuk Jibran.

“Saya mau kita negosiasikan ini setelah acara tahun baru. Jadi, untuk sekarang saya nggak bisa nerima permintaan kamu untuk tidak melanjutkan kontrak. Apa kamu keberatan?”

Jibran mengedikkan bahunya, jadi lebih ringan setelah ketegangan yang ia rasakan terkikis pelan-pelan. “Saya nggak masalah, asalkan permintaan untuk nggak lanjutin kontrak bisa diterima.”

Timon mengembuskan napas berat, seakan tidak terima mendengar kegigihan Jibran untuk tidak melanjutkan kontrak. “Kamu yakin nggak akan nyesel kalau saya terima keputusan kamu?”

Jibran menggeleng mantap. “Saya nggak akan pernah menyesal.”

Baku tembak di jalanan begitu mengerikan kala didengar. Membuat siapa pun yang ada di sekitar lari terbirit-birit demi menghindari peluru yang bisa salah sasaran. Namun, tidak bagi Jibran yang kala itu menjadi pelaku sebagai penembak andal pada target di depan. Dengan satu tangan yang menarik pedal gas, tangan lainnya bekerja memegang pistol dan menekan pelatuk setiap kali mendapat kesempatan untuk mengenai target.

Sayang, target yang juga mengendari motor selalu berhasil menghindari serangannya. Jibran memacu kecepatan tinggi setelah kedua tangannya fokus memegang stang motor, menyalip beberapa mobil yang berlalu lalang untuk mengejar targetnya. Begitu motornya berhasil mengejar target dan tepat di sampingnya, ketegangan makin terasa nyata hingga kendaraan lain memilih berhenti demi menghindari jadi korban salah sasaran.

Jibran melirik sesekali ke arah kirinya di mana target yang mengenakan helm untuk menyembunyikan wajahnya berada. Dia harus fokus sebelum mengangkat sebelah tangannya untuk menembak target yang berada di bawah kuasanya.

Nahas, di saat Jibran nyaris menodongkan senjata, satu tembakan mengenai lengan Jibran hingga dia kehilangan keseimbangan dan terjatuh dari motornya. Jibran terguling di atas aspal dengan darah yang bercucuran pada luka tembaknya, sedangkan target utamanya telah lolos menjauh dengan kemenangan.

Di tengah kesadarannya yang tipis dan napas yang tersengal-sengal, Jibran menatap motor itu tanpa berkedip. Sampai akhirnya kegelapan menjemput, Jibran biarkan tubuhnya tergeletak begitu saja di atas aspal tanpa ada sesiapa yang menyelamatkan.


Jibran Dava Adelard membuka matanya dan mengerjap beberapa kali untuk memfokuskan pandangan yang kabur. Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit kamar berwarna biru, menandakan bahwa ia berada di rumahnya. Ya, bukan rumah sakit untuk merawat lukanya, melainkan rumah yang menjadi tempat bernaung daksa selama lima tahun terakhir ini.

Saat nyawanya telah terkumpul, Jibran usap wajahnya dengan kedua telapak tangan dan bernapas lega karena itu semua hanya mimpi. Kengerian, ketegangan, kebisingan, hingga kesakitan yang Jibran alami dalam mimpinya terasa nyata, karena setelah ia bangun pun, Jibran masih merasakan itu semua sampai harus memastikan dia telah sepenuhnya sadar.

Jibran bangkit dari posisinya, lalu berjalan menuju cermin setinggi tubuhnya yang menempel pada pintu walk in closet-nya. Jibran menatap bayangannya pada cermin yang tak mengenakan atasan, merasa bersyukur karena bekas luka di tubuhnya yang sering ia dapatkan saat syuting film laga telah hilang di bagian dada dan perutnya.

Namun, ketika dia berputar sedikit ke arah kanan, Jibran menemukan bekas luka bakar pada bicepsnya yang belum kunjung hilang. Bekas luka kemerahan itu sangat mengganggu bagi Jibran, meski selalu tertutup oleh pakaian dengan lengan panjang yang selalu ia kenakan setiap syuting atau sekadar bepergian. Luka itu Jibran dapatkan saat syuting film terakhirnya yang telah tayang 2 bulan lalu.

Jibran yang berdiri terlalu dekat dengan api saat pengambilan gambar terakhir, serta kru yang fokus kala syuting, sempat tak sadar bahwa satu bagian tubuhnya telah terbakar. Begitu sadar, lukanya telah parah dan meninggalkan bekas hingga sekarang.

Dari luar Jibran boleh terlihat tanpa celah layaknya patung yang dipahat sempurna, tanpa meninggalkan satu detail kecil dan menjadi kritik. Kenyataannya pada bagian tubuhnya terdapat luka yang membuat Jibran sendiri jijik melihatnya. Namun, luka itulah yang menandakan bahwa Jibran hanyalah manusia biasa yang bisa terluka.

Dia bukan manusia sempurna yang hanya dilihat bagian luarnya saja, karena dalam dirinya dia memiliki kekurangan yang berusaha disembunyikan dari banyak orang. Jibran menyingkir dari cermin dan membuka kulkas yang masih berada di kamarnya, meraih sebotol air, lalu menghabiskannya dalam satu kali tegukan.

Saat Jibran berjalan menuju kamar mandi, langkahnya terhenti ketika melihat tiga naskah film yang ditawarkan padanya untuk menjadi project film terbarunya, tergeletak begitu saja di atas meja tempat Jibran sering berlatih dialog dan akting. Alih-alih meraih salah satu naskah yang menarik minatnya, Jibran memilih meraih ponselnya di sana, menyalakannya, lalu mencari kontak orang andalannya yang selalu siap sedia di pagi hari begini.