Di Belakang Layar


Sesuai yang diperintahkan Eila, pagi ini Jibran membuat sarapan sendiri dengan menu sederhana; tiga pancake yang disiram maple syrup dengan orange juice segar, membuat semangat paginya bangkit. Jibran akui dia sangat tergantung pada Trian yang biasa membawakannya sarapan atau beli secara online, jadi sedikit kaku ketika memasak lagi sampai satu pancake-nya gosong. Yah, tidak masalah.
Jibran masih bisa menikmati makanan buatannya sendiri, selagi itu bukan orang lain. Sembari menikmati sarapan di meja makan dengan tangan kanan memegang garpu, tangan kiri Jibran sibuk membuka lembaran naskah dan netranya membaca setiap dialog di sana. Sudah menjadi kebiasaannya saat berada dalam project, jadi jangan heran ketika Jibran membaca naskah di setiap kesempatan, seperti saat sarapan begini.
“Jeremy, kenapa kamu sok manis?”
Jibran gemas membaca salah satu dialog yang baginya menggelikan. Bulu kuduknya berdiri karena merinding, tidak tahu apa yang akan terjadi kalau sampai syuting dimulai dan Jibran harus mengucapkan dialog manis itu.
“Jibran, jangan patah semangat. Kamu harus keluar dari Punch dan lanjutin hidup normal.”
Semangatnya kembali bangkit, Jibran tidak mau dicap tidak profesional karena menyerah di tengah jalan, apalagi dia bukan aktor baru yang masih beradaptasi dengan lingkungan industri hiburan. Jadi sesulit apa pun, Jibran harus melakukan project ini sampai tuntas.
Di tengah sesi sarapan, Jibran jadi teringat Eila yang kali ini dekat dengannya. Bukan hanya dekat, Eila juga membantunya untuk mengasah kemampuan akting Jibran untuk film teranyarnya. Lantas Jibran diajak mundur ke memori lama yang masih membekas dalam ingatan, menjadi kenangan manis yang tidak akan pernah tergantikan meski sudah lewat bertahun-tahun, karena itu adalah momen pertama jantungnya berdebar cepat tanpa irama pasti, daksanya memaku akibat satu kali pandang, sedangkan perutnya seperti ada yang menggelitik dan sensasinya menyenangkan.
Bila boleh memutar waktu sejenak, saat SMP Jibran bukan sosok idaman, bahkan tergolong biasa saja yang masih beruntung punya teman dekat. Jibran bukan tipe siswa yang akan didekati oleh banyak orang untuk dijadikan teman, tapi beruntung tidak merasakan kejamnya geng sekolah yang tukang merundungi anak-anak kuper. Jibran ingat, di akhir semester dia diajak oleh temannya untuk menjadi volunter drama sekolah sebagai pembuat properti. Jibran yang ingin mengisi waktu luang langsung menerima ajakan itu demi menghilangkan jenuh hanya belajar di sekolah.
Sebagai tim di belakang layar, presensi Jibran tidak terlalu diindahkan oleh banyak pihak, selain diperintah oleh pelatih untuk membuat properti sesuai desain yang ada. Jika teman-temannya yang lain mengeluh, maka Jibran tidak. Alasannya bukan karena dia jago berkarya dengan peralatan membuat properti drama, melainkan karena di hari kedua menjadi volunter, dia melihat salah satu pemeran utama yang sedang latihan dan langsung membuatnya terpana.
Eila namanya. Sang pemeran utama sebagai tokoh Cinderella yang menawan. Untuk ukuran anak SMP, akting Eila terbilang bagus dan pelatihnya selalu memuji totalitasnya. Jibran juga mengaku kagum pada akting Eila, sampai dia sering curi-curi pandang setiap membuat properti ketika latihan berlangsung. Awalnya Jibran mengira debar jantungnya yang cepat terjadi karena dia terlalu kagum dengan akting Eila.
Namun lambat laun segalanya jadi lain. Perasaannya menguat, rasa tidak sabar ke sekolah demi bertemu Eila makin besar, semangat belajarnya membara, hampir setiap hari dia selalu memikirkan Eila, hingga akhirnya Jibran sadar perasaannya bukan kagum belaka, tetapi bertransformasi menjadi cinta yang untuk pertama kalinya ia rasakan.
Sayang, saat itu Jibran terlalu polos untuk mengetahui sebesar apa rasa cintanya. Dia juga terlalu polos untuk mengaku suka, karena Jibran merasa dunianya dan Eila saat itu berbeda. Eila adalah pemeran utama, sedangkan Jibran hanyalah manusia di belakang layar yang tidak layak untuk maju ke depan layar. Alhasil Jibran memendam perasaannya, berharap bisa diredam agar tak terlalu mekar.
Namun, usahanya gagal, karena saat Eila akhirnya tampil di panggung dan Jibran hanya menjadi penonton setelah bekerja keras membuat properti, perasaannya makin tumbuh tidak terkendali. Akting Eila begitu memukau hingga Jibran terbius dalam pesona dan dunianya.
Tak cukup kata untuk mendeskripsikan Eila saat itu, tapi yang pasti Jibran makin mencintai segala hal yang ada pada diri Ardania Eila Madaharsa. Hanya saja Jibran tidak punya cukup nyali untuk mengaku, jadi segala rasa itu Jibran pendam hingga bertahun-tahun lamanya.
Jibran di masa kini yang bertransformasi menjadi idaman banyak kaum Hawa dengan akting memukau, tersenyum mengingat masa lalunya yang manis meski hanya sesaat. Sekarang Jibran kembali dipertemukan dengan Eila di saat perasaannya sudah berakhir. Well, awalnya Jibran berpikir demikian, tapi sekarang dia sadar perasaan itu kembali bangkit dari kuburnya karena Eila makin mudah diraih olehnya.
Belum dipastikan apakah ini cinta atau sekadar kagum seperti di awal pertemuan, tapi Jibran berharap perasaannya mampu ia redam untuk sekarang, karena takut cintanya bertepuk sebelah tangan.
Jibran menggeleng pelan, menarik diri kembali ke realitas setelah puas melamunkan Eila di masa lalu dan masa kini. Jibran menghabiskan pancake dan jusnya, lalu kembali membaca naskah dan melatih dialog Jeremy yang lagi-lagi membuatnya merinding geli.
Baru lima menit fokus, suara pertanda pesan masuk memecah konsentrasinya. Jibran raih ponsel yang ada di atas meja makan, lalu tersenyum melihat pesan dari orang yang baru saja ia pikirkan. Kalau satu pesan saja sudah membuat Jibran sebaper ini, tidak heran bila ke depannya perasaan yang dia miliki pada Eila tak bisa dielakkan lagi.

















